Spirit Hijrah dan Pengembangan Growth Mindset

Oleh: Wahdatun Nisa

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menulis sebuah wasiat mendalam tentang kekuatan pikiran: “Ketahuilah bahwa kehidupanmu mengikuti jalan pikiranmu. Jika engkau memenuhi pikiranmu dengan hal-hal yang bermanfaat bagi agama dan duniamu, maka kehidupanmu akan berjalan menuju kelapangan dan kebahagiaan. Namun jika pikiranmu dikuasai oleh kecemasan dan keputusasaan, maka kehidupanmu akan terasa sempit.” Untaian hikmah ini menjadi penjelas yang bagi firman Allah SWT dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11 bahwa perubahan nasib suatu kaum mutlak dimulai dari perubahan apa yang ada di dalam jiwa mereka sendiri.

Menyambut fajar 1448 H, saat pergantian tahun baru Islam ini sudah sepatutnya kita jadikan sebagai panggilan teologis untuk mengobarkan kembali spirit hijrah yang merupkan komitmen nyata untuk bermigrasi dari sempitnya pola pikir statis (fixed mindset) menuju luasnya samudra pola pikir berkembang (growth mindset) demi menjemput takdir masa depan yang penuh keberkahan.

Hijrahnya Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat dari Mekah ke Madinah merupakan peristiwa geopolitik dan spiritual terbesar dalam sejarah peradaban. Namun, berabad-abad setelah peristiwa fisik itu berlalu, kita perlu bertanya pada diri sendiri apakah esensi hijrah hanya sekadar heroisme masa lalu yang diperingati secara seremonial tahunan, ataukah ia merupakan sebuah cetak biru (blueprint) transformasi diri yang harus terus diperbarui. Di era modern yang penuh dengan disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, dan ketidakpastian global ini, memaknai hijrah menuntut kita melakukan kontekstualisasi teologis yang radikal. Hijrah secara fisik memang telah selesai seiring peristiwa Fathul Mekkah, namun hijrah secara maknawi yaitu perpindahan dari kondisi mental yang stagnan menuju kondisi spiritual dan intelektual yang dinamis adalah tugas seumur hidup. Dalam diskursus psikologi kontemporer, esensi dari transformasi tanpa batas ini ditemukan padanannya yang sangat presisi pada konsep growth mindset.

Konsep growth mindset, yang dipopulerkan oleh psikolog Carol Dweck dari Stanford University, menjelaskan bahwa kemampuan, kecerdasan, dan karakter seseorang bukanlah sesuatu yang statis (fixed) sejak lahir. Sebaliknya, segala potensi kemanusiaan tersebut dapat terus diasah, dikembangkan, dan dilipatgandakan melalui kerja keras, strategi yang tepat, ketahanan terhadap ujian, dan proses belajar yang kontinu. Seseorang dengan pola pikir berkembang melihat kegagalan bukan sebagai akhir dari segalanya atau cerminan dari batas kemampuan mereka, melainkan sebagai umpan balik (feedback) serta batu loncatan yang berharga untuk bertumbuh.

Jika kita membedah sejarah migrasi kaum Muhajirin, kita akan menemukan bahwa para sahabat Nabi adalah prototipe manusia dengan growth mindset terbaik dalam sejarah peradaban. Bayangkan secara psikologis, mereka harus meninggalkan rumah, harta benda, ingatan masa kecil, tanah kelahiran, hingga jaringan bisnis yang telah mapan di Mekah untuk menuju sebuah tempat baru yang asing, yakni Yatsrib (Madinah). Seseorang dengan fixed mindset (pola pikir statis) akan memilih bertahan di zona nyaman, berkompromi dengan sistem penindasan Quraisy, dan meratapi nasib seraya pasrah pada keadaan. Namun, kaum Muhajirin memilih memeluk spirit hijrah—sebuah keyakinan profetik bahwa di balik ketidakpastian masa depan, ada peluang besar dan kelapangan yang disediakan oleh Allah bagi mereka yang mau bergerak, beradaptasi, dan berikhtiar secara totalitas.

Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa sadar kita sering kali memelihara belenggu fixed mindset yang secara perlahan membunuh potensi kemajuan spiritual dan profesional kita. Ketika dihadapkan pada kesulitan ekonomi, tantangan karier, atau kegagalan akademis, mentalitas statis ini akan berbisik: “Saya memang tidak berbakat di bidang ini,” atau “Nasib saya sudah digariskan buruk, tidak ada gunanya mencoba lagi.”

Bahkan dalam konteks spiritual yang lebih dalam, fixed mindset mewujud dalam bentuk keputusasaan terhadap ampunan Allah. Seseorang mungkin enggan menghadiri majelis ilmu atau memperbaiki kualitas ibadahnya dengan dalih, “Saya sudah terlanjur menjadi pendosa besar, tidak mungkin bisa menjadi orang saleh.” Ini adalah sebuah kekeliruan fatal dan bentuk penolakan terselubung terhadap spirit hijrah. Hijrah mental menuntut kita untuk meruntuhkan dinding-dinding pesimisme kognitif tersebut, sebagaimana nasihat bijak dari ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyah: “Jangan meratapi jalan yang tertutup, karena ketika Allah menutup satu pintu, Dia sedang membuka jalan lain yang lebih luas melalui ikhtiar barumu.” Perubahan tahun baru 1447 H ini harus menjadi momentum proklamasi diri untuk berhijrah dari kata “saya tidak bisa” menjadi “saya belum bisa, dan saya mau belajar”.

Lantas, bagaimana manifestasi nyata dari integrasi spirit hijrah dan growth mindset ini dapat kita terapkan secara konkret di lembaran baru tahun 1447 H? Ada tiga langkah taktis yang bisa kita implementasikan dalam ekosistem kehidupan kita.

Pertama, melakukan reorientasi total terhadap kegagalan sebagai guru spiritual (spiritual restructuring). Bagi seorang Muslim yang memiliki growth mindset, kegagalan tidak lagi didefinisikan sebagai hukuman atau akhir dari segalanya. Kegagalan dipandang sebagai instrumen tarbiyah (pendidikan) dan muhasabah (evaluasi diri) langsung dari Allah agar kita memeriksa kembali niat, strategi, dan kualitas ikhtiar kita. Ketika satu rencana bisnis atau target karier kita meleset, kita segera berhijrah dari sikap menyalahkan keadaan atau meratapi nasib menuju sikap proaktif mencari solusi-solusi baru yang kreatif.

Kedua, berkomitmen pada prinsip belajar sepanjang hayat (long-life learning). Rasulullah SAW menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban yang membentang dari buaian hingga liang lahad. Di era disrupsi digital yang bergerak secara eksponensial ini, kita tidak boleh membiarkan kapasitas intelektual kita mandek. Kita harus memiliki kemauan yang keras untuk terus meningkatkan kapasitas diri melalui proses upskilling dan reskilling. Seorang Muslim yang memeluk spirit hijrah akan terus membuka diri mempelajari keterampilan baru, menguasai literasi teknologi, sekaligus memperdalam pemahaman ukhrawi agar tidak tergilas oleh zaman.

Ketiga, mengubah kritik menjadi bahan evaluasi diri. Orang dengan fixed mindset biasanya akan bersikap sangat defensif, antikritik, dan merasa terancam ketika ego mereka terusik. Sebaliknya, spirit hijrah mengajarkan kita untuk berlapang dada menerima setiap masukan dan teguran demi perbaikan kualitas diri. Karakter mulia ini mengingatkan kita pada nasihat emas yang pernah diucapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab ra.: “Semoga Allah merahmati orang yang mau menunjukkan aib-aibku di hadapanku.” Ini adalah tingkat tertinggi dari sebuah mentalitas yang siap bertumbuh, di mana umpan balik yang pahit sekalipun dipandang sebagai obat pelipur lara yang memperbaiki kualitas jiwa.

Pada akhirnya, tahun baru Islam 1448 H bukan sekadar urutan angka digital yang berganti di layar gawai kita, bukan pula sekadar momentum untuk saling mengirimkan ucapan selamat yang klise di media sosial. Kalender Hijriah adalah pengingat visual yang bergerak maju bahwa waktu tidak pernah menunggu manusia, dan alam semesta menolak untuk statis. Jika kita memilih untuk mempertahankan pola pikir yang usang, malas melakukan inovasi, serta enggan memperbaiki akhlak dan kompetensi profesional kita, maka kita sebenarnya sedang berjalan mundur secara perlahan di tengah dunia yang sedang berlari kencang.

Mari kita jadikan momentum awal tahun 1448 H ini sebagai titik mula untuk mendeklarasikan “Hijrah Mindset” di dalam ruang pikiran kita sendiri. Kita tinggalkan kenyamanan semu yang selama ini membelenggu potensi besar yang telah Allah titipkan. Berpindahlah dari kebodohan menuju keluasan ilmu, dari kemalasan menuju produktivitas yang maslahat, dan dari kesempitan fixed mindset menuju luasnya samudra growth mindset. Ingatlah janji Allah SWT yang sangat indah bagi orang-orang yang berani melangkah untuk berubah di dalam Surah An-Nisa ayat 100:
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak…”

Selamat Tahun Baru Islam 1448 H. Selamat berhijrah secara kognitif dan spiritual, selamat menumbuhkan pola pikir baru, dan bersiaplah untuk bertransformasi menjadi versi terbaik dari diri kita di hadapan manusia serta di hadapan Allah SWT.

 

Loading

Solverwp- WordPress Theme and Plugin

Sosial Media MUI Kaltim