
Oleh: Dr. H. Achmad Ruslan Afendi, M.Ag./ Dosen Pascasarjana UINSI Samarinda, Maheswara Utama BPIP RI,/Pengurus Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur
SAMARINDA (muikaltim,or id) Krisis lingkungan hidup semakin memperlihatkan wajah yang kompleks. Kekeringan, berkurangnya sumber air, perubahan pola musim, kebakaran hutan dan lahan, serta berbagai bentuk degradasi lingkungan bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, ekonomi, moral, bahkan spiritual manusia. Dalam konteks inilah sholat istisqa’ memiliki makna yang jauh lebih mendalam daripada sekadar ritual memohon turunnya hujan. Sholat istisqa’ adalah bentuk penghambaan manusia kepada Allah SWT ketika menghadapi kekeringan dan membutuhkan air. Namun, jika dibaca melalui perspektif Pendidikan Islam dan ekoteologi, istisqa’ sesungguhnya dapat menjadi momentum pendidikan spiritual untuk membangun kesadaran bahwa manusia bukan penguasa mutlak atas alam, melainkan khalifah yang memiliki amanah untuk merawat bumi.
Istisqa’: Dari Permohonan Hujan Menuju Kesadaran Ekologis
Secara sederhana, sholat istisqa’ sering dipahami sebagai sholat untuk memohon hujan. Pemahaman tersebut benar, tetapi belum cukup. Istisqa’ juga mengandung pesan teologis bahwa air merupakan karunia Allah yang sangat fundamental bagi kehidupan.
Al-Qur’an menegaskan: وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya’: 30) Ayat ini menempatkan air sebagai salah satu fondasi kehidupan. Karena itu, ketika manusia mengalami kekeringan, respons keagamaannya tidak berhenti pada doa memohon hujan. Istisqa’ seharusnya melahirkan pertanyaan yang lebih reflektif: Bagaimana manusia memperlakukan air? Bagaimana manusia menjaga hutan? Bagaimana manusia mengelola sungai? Bagaimana manusia mengendalikan eksploitasi sumber daya alam? Di sinilah istisqa’ bertemu dengan gagasan ekoteologi, yaitu cara memahami hubungan manusia, alam, dan Tuhan berdasarkan nilai-nilai teologis.
Pendidikan Islam Tidak Boleh Terpisah dari Pendidikan Lingkungan
Pendidikan Islam pada hakikatnya bukan hanya proses transfer pengetahuan keagamaan. Pendidikan Islam bertujuan membentuk manusia yang memiliki hubungan harmonis dengan Allah, sesama manusia, dan alam. Konsep khalifah fil ardh menjadi fondasi penting. Allah SWT berfirman: إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30) Khalifah bukan berarti manusia bebas mengeksploitasi bumi. Sebaliknya, status tersebut merupakan amanah dan tanggung jawab moral. Karena itu, Pendidikan Islam perlu mengembangkan paradigma bahwa kesalehan tidak hanya diwujudkan melalui hubungan vertikal kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan horizontal dengan manusia (hablum minannas), tetapi juga melalui hubungan etis dengan alam. Merusak hutan, mencemari sungai, membuang sampah sembarangan, memboroskan air, dan mengeksploitasi alam secara berlebihan pada akhirnya bertentangan dengan prinsip amanah sebagai khalifah.
Istisqa’ sebagai Pendidikan Taubat Ekologis
Salah satu pesan penting dalam sholat istisqa’ adalah istighfar dan taubat. Ini memiliki relevansi yang kuat dengan pendidikan ekologis. Allah SWT berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41). Ayat tersebut memberikan perspektif moral bahwa kerusakan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari perilaku manusia. Maka, taubat ekologis harus menjadi bagian dari kesadaran keagamaan. Taubat tidak hanya berarti menyesali dosa individual, tetapi juga mengubah perilaku yang merusak lingkungan. Sholat istisqa’ seharusnya menjadi momentum untuk bertanya: Apakah kita hanya meminta hujan, tetapi terus merusak sumber air? Apakah kita berdoa agar sungai mengalir, tetapi membiarkan sungai dipenuhi limbah? Apakah kita memohon kesejukan, tetapi terus menghilangkan pepohonan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar ritual keagamaan tidak kehilangan dimensi transformasinya.
Ekoteologi Islam: Alam sebagai Ayat Allah
Dalam perspektif Islam, alam bukan sekadar objek material yang dapat dieksploitasi. Alam merupakan bagian dari ayat-ayat kebesaran Allah. Gunung, laut, hutan, sungai, hujan, tanah, tumbuhan, dan hewan merupakan tanda-tanda kebesaran-Nya. Dengan demikian, merawat alam pada hakikatnya merupakan bagian dari penghormatan terhadap ciptaan Allah. Konsep ini dapat membangun apa yang disebut sebagai ecological spirituality, yaitu spiritualitas yang mendorong manusia semakin dekat kepada Allah melalui kepedulian terhadap lingkungan. Seorang peserta didik yang memahami Islam secara ekologis tidak hanya bertanya, “Apa hukum membuang sampah?” tetapi juga memahami bahwa menjaga kebersihan merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai hamba dan khalifah.
Dari Masjid Menuju Gerakan Ekologis
Sholat istisqa’ juga dapat menjadi pintu masuk bagi masjid dan lembaga pendidikan Islam untuk mengembangkan gerakan ekologi berbasis keagamaan.
Setelah pelaksanaan istisqa’, misalnya, dapat dilanjutkan dengan:
- Gerakan hemat air di masjid dan sekolah/madrasah.
- Pembuatan biopori dan sumur resapan.
- Gerakan menanam pohon.
- Pengelolaan sampah berbasis masjid.
- Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
- Perlindungan sumber mata air dan sungai.
- Pendidikan konservasi lingkungan dalam pembelajaran PAI.
- Gerakan pesantren/madrasah hijau.
- Pemanfaatan energi secara efisien.
- Penguatan budaya bersih sebagai bagian dari akhlak Islami.
Dengan demikian, doa istisqa’ harus berjalan bersama ikhtiar ekologis.
Istisqa’ dan Pendidikan Karakter
Jika diterapkan dalam Pendidikan Islam, sholat istisqa’ dapat menjadi media pembentukan karakter. Nilai-nilai yang dapat dikembangkan antara lain:
| Nilai | Implementasi Pendidikan |
| Tawakal | Berserah diri kepada Allah setelah melakukan ikhtiar |
| Syukur | Menghargai air dan seluruh sumber daya alam |
| Amanah | Menjaga lingkungan sebagai titipan Allah |
| Zuhud | Menghindari gaya hidup berlebihan |
| Disiplin | Menghemat air dan energi |
| Tanggung jawab | Menjaga kebersihan dan kelestarian alam |
| Taubat | Mengubah perilaku yang merusak lingkungan |
| Gotong royong | Melakukan aksi lingkungan bersama |
| Rahmah | Menyayangi manusia, hewan, tumbuhan, dan alam |
Dengan pendekatan tersebut, Pendidikan Islam tidak hanya melahirkan insan yang saleh secara ritual, tetapi juga insan yang saleh secara ekologis.
Relevansi bagi Pesantren dan Madrasah
Pesantren dan madrasah memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran ekoteologi. Lingkungan pendidikan dapat dijadikan laboratorium akhlak ekologis. Santri tidak cukup hanya diajarkan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman. Mereka perlu mengalami secara langsung bagaimana mengelola sampah, menghemat air, menanam pohon, merawat kebun, menjaga sanitasi, dan mengelola lingkungan pesantren. Pesantren dapat mengembangkan konsep Eco-Pesantren, sedangkan madrasah dapat mengembangkan Madrasah Ramah Lingkungan. Dengan demikian, nilai-nilai agama tidak berhenti di ruang kelas atau mimbar masjid, tetapi hadir dalam perilaku sehari-hari.
Memaknai Istisqa’ di Tengah Krisis Iklim
Di tengah perubahan iklim, makna istisqa’ menjadi semakin relevan. Namun, kita perlu menghindari pemahaman bahwa kekeringan semata-mata merupakan persoalan yang cukup diselesaikan dengan doa. Doa adalah kekuatan spiritual. Tetapi Islam juga mengajarkan ikhtiar. Karena itu, formula yang perlu dibangun adalah: Doa + Taubat + Ilmu + Kebijakan + Teknologi + Aksi Ekologis. Kita membutuhkan ilmu hidrologi untuk memahami air, teknologi untuk konservasi, kebijakan untuk melindungi lingkungan, pendidikan untuk membangun kesadaran, dan spiritualitas untuk menanamkan tanggung jawab moral. Inilah titik temu antara agama, pendidikan, sains, dan ekologi.
Menjadikan Hujan sebagai Rahmat, Bukan Sekadar Fenomena
Hujan dalam Al-Qur’an sering digambarkan sebagai rahmat Allah. Namun, agar hujan benar-benar menjadi rahmat, manusia harus memiliki ekosistem yang mampu menerima dan menyimpan air. Hujan yang turun di wilayah yang hutannya terjaga dapat mengisi sungai, danau, tanah, dan sumber air. Sebaliknya, hujan yang turun di kawasan yang kehilangan tutupan vegetasi dapat berubah menjadi banjir dan bencana.
Karena itu, persoalan ekologis tidak cukup dijawab dengan “meminta hujan”, tetapi juga harus dilanjutkan dengan “menyiapkan bumi untuk menerima hujan.” Inilah salah satu pesan pendidikan paling penting dari perspektif ekoteologi.
Penutup: Jangan Hanya Meminta Hujan, Rawatlah Bumi
Sholat istisqa’ mengajarkan manusia untuk menyadari keterbatasan dirinya. Manusia membutuhkan air, sementara air merupakan karunia Allah. Kesadaran tersebut semestinya melahirkan kerendahan hati, rasa syukur, taubat, dan tanggung jawab. Dalam perspektif Pendidikan Islam, istisqa’ dapat menjadi pendidikan spiritual yang mengubah cara pandang manusia terhadap alam. Dalam perspektif ekoteologi, istisqa’ mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan Allah tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab manusia terhadap bumi. Karena itu, jangan sampai kita hanya rajin meminta hujan, tetapi lalai menjaga hutan; rajin berdoa meminta air, tetapi boros menggunakan air; rajin memohon keselamatan, tetapi terus melakukan tindakan yang merusak lingkungan. Istisqa’ idealnya tidak berhenti ketika doa selesai. Ia harus berlanjut dalam bentuk perubahan perilaku ekologis. Sebab, memohon hujan adalah ibadah; menjaga air adalah amanah; merawat bumi adalah tanggung jawab kekhalifahan; dan mendidik generasi agar mencintai alam adalah bagian dari Pendidikan Islam. Dari istisqa’ menuju kesadaran ekologis. Dari doa menuju aksi. Dari kesalehan ritual menuju kesalehan ekologis. Allahu a’lam.
![]()