
Foto Pramoedya dan Buya Hamka/Foto istimewa Penulis : Muhammad Fajar Adyatama
“Selamat Hari Buku Nasional”, “Selamat Harbuknas 17 Mei”, kurang lebih seperti dan sesingkat itu kata-kata yang biasa kutulis saat hari ini tiba (17 Mei) di SG/SW sembari mengutip beberapa quote dari para begawan dan raksasa ilmu di Indonesia. Namun kali ini, aku ingin mencoba menulis “sedikit lebih panjang” dari biasanya. Apa pemicunya? Selain karena memang ingin belajar menulis, ada satu alasan lagi; keresahan dan kekecewaan. Ya, kita sudah tahu bersama bahwa ada kabar miris dalam dunia pendidikan di kita punya negeri, khususnya dalam hal “membaca buku”, yaitu turunnya anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) hampir 50% menjadi Rp 377,7 miliar (2026), dari sebelumnya Rp 721,68 miliar (2025) yang membuat ruang-ruang pengetahuan terasa menipis, seolah semangat masa depan ikut meredup. Padahal, momen Harbuknas 17 Mei mesti kita nyalakan dengan semangat cinta tanah air dan kobarkan dengan ketetapan hati untuk melanjutkan dan melestarikan cita-cita our founding parents.
Pada hari ini, aku seperti diingatkan bahwa buku bukan sekadar tumpukan lembaran kertas, melainkan rumah bagi ingatan, pelita bagi nalar, dan jembatan bagi persaudaraan. Ia mengajarkan kita bahwa kemajuan bangsa sering berawal dari kebiasaan sederhana: membaca, memahami, berdiskusi lalu menulis lagi, agar mimpi tentang Indonesia tidak mudah padam, dan kedaulatan pengetahuan tetap dijaga. Setidaknya hari ini bangsa Indonesia diberi momentum untuk kembali menautkan mimpi: literasi yang tumbuh, pengetahuan yang merata, serta harapan yang disemai melalui buku dalam sebuah jalinan cinta yang kunamakan, Romansa Nusantara.
Bukan tanpa sebab diksi ‘Romansa’ kugunakan dalam judul tulisan ini. Puluhan tahun setelah berbagai lika-liku yang rumit, kisah Novel Roman fenomenal “Bumi Manusia” karya sastrawan masyhur Indonesia, Pramoedya Ananta Toer akhirnya di angkat ke layar lebar. Aku sudah tak asing dengan nama sastrawan ini sedari masih di Pesantren, ketika quote-nya yang terkenal itu masih menghiasi dinding kamarku, bersanding dengan foto nyentrik beliau dengan sebatang rokok di tangan.
Bumi Manusia adalah novel Pramoedya pertama yang kubaca, sebuah karangan luar biasa yang bagiku tak berlebihan dinobatkan sebagai salah satu karya sastra terbaik di dunia. Pram (panggilan akrab Pramoedya) dengan tangan dinginnya mampu merangkai kisah dengan pergolakan yang apik, nuansa roman klasik yang mengiringi kisah Minke, seorang pribumi cerdas yang jatuh cinta dengan gadis cantik keturunan Belanda, Annalise.
Karya itu mengajak kita menyelami ‘wajah’ Nusantara pada awal abad ke-20, bersama segala perasaan gundah tentang ketidakpekaan budaya yang mengekang, keterbatasasan pendidikan yang melemahkan, serta kebiadaban kolonialisme yang semena-mena. Karya ini sempat dianggap kontroversial bahkan dilarang beredar. Namun sungguh pun begitu, novel Bumi Manusia telah diterjemahkan lebih dari 40 bahasa di seluruh dunia hingga mengantarkan Pramoedya menjadi kandidat peraih Nobel Sastra beberapa kali.
Mengenang kisah kehidupan Pramoedya, aku jadi teringat kejadian yang dialami oleh seorang sastrawan hebat Indonesia, sekaligus ulama kharismatik yang (juga) dihormati dunia, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka). Siapa yang tidak mengenal karya beliau, “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk”? Dengan genre dan latar waktu yang hampir sama seperti Bumi Manusia, Hamka juga mengangkat sebuah kisah cinta dari tanah Minangkabau yang sarat akan kritik beliau terhadap adat dan budaya masyarakat Indonesia saat itu.
Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijk berkisah tentang seorang Zainuddin, pemuda kampung yang sederhana, dengan pujaan hatinya, Hayati. Kisah cinta mereka yang awalnya begitu manis, ternyata tak mampu bertahan indah. Tatkala lamaran Zainuddin ditolak mentah-mentah oleh orang tua Hayati. Karena sesuai adat yang berlaku saat itu, Zainuddin dianggap tidak memiliki darah Minangkabau, sehingga tidak layak mempersunting Hayati yang merupakan gadis dari keluarga Minangkabau tulen. Gejolak mulai terbangun ketika Hayati dengan sangat terpaksa harus menikahi lelaki pilihan orang tuanya, yang ternyata hanyalah ‘budak’ Belanda yang hanya cinta pada uang dan kekuasaan.
Pada masa tenarnya, tidak banyak orang tahu Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk pernah mendapatkan fitnah yang luar biasa oleh pihak yang begitu membenci beliau. Oleh karena beliau adalah salah satu pendiri Partai Islam Masyumi, bersama para pendiri bangsa Indonesia lainnya, seperti Muhammad Natsir dan Agus Salim, lawan-lawan politik beliau melancarkan serangan dengan menuding Tenggelamnya Kapal Van der Wijk adalah hasil plagiat semata.
Dan tokoh yang sangat vokal menyuarakan penghinaan tersebut, tak lain adalah Pramoedya Ananta Toer berserta kaum kiri lainnya yang aktif dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Kenyataan ini benar-benar sempat membuat hati dan fikiranku tidak baik-baik saja, membayangkan apa jadinya bila kelak karya-karya yang kutulis dengan tangan dan fikiranku sendiri, dijadikan bahan olokan hanya karena fitnah murahan. Sangat mungkin aku akan murka, dan kupastikan semua orang yang menghinaku mendapatkan balasannya.
Namun, perseteruan kedua tokoh tersebut akhirnya membawaku pada penghujung kisahnya yang sungguh tak terduga (plot twits). Seperti yang tertulis dalam buku “Belajar Dari Partai Masyumi” dan “Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka”. Suatu ketika, Astuti, putri Pramoedya ingin menikah dengan seorang lelaki. Pramoedya sebagai seorang ayah begitu bahagia mendengarnya, namun ada yang mengganjal di hatinya. Calon suami anaknya yang keturunan etnis Tionghoa ternyata diketahui berbeda keyakinan dengan putrinya. Lantas, beliau berkata, “Saya tidak rela anak saya kawin dengan orang yang secara kultur dan (apalagi) agama berbeda.”
Beliau kemudian meminta putri dan calon menantunya untuk datang menemui Buya Hamka, sosok ulama yang selama bertahun-tahun menjadi sasaran hinaannya. “Saya lebih mantap mengirimkan calon menantuku untuk dilslamkan dan belajar agama pada Hamka, meski kami berbeda paham politik,” demikian ujar Pram.
Astuti dan calon menantunya kemudian mendatangi kediaman Buya Hamka. Ketika Astuti memohon kepada Buya Hamka agar bersedia mengajarkan kekasihnya itu tentang Islam, Buya Hamka sempat tertegun sejenak. Beliau jelas mengetahui bahwa gadis di hadapannya adalah putri Pramoedya Ananta Toer, seorang yang selama ini berseteru dengan dirinya.
Lantas apa yang dilakukan beliau? Rusydi Hamka, putranya yang melihat peristiwa itu menceritakan, wajah Buya Hamka basah oleh air mata. Beliau menyatakan sepenuhnya ikhlas membimbing sejoli itu untuk belajar Islam. Astuti tidak menyangka, sosok yang dulu begitu dibenci ayahnya, ternyata adalah lelaki yang bersahaja dan berlapang dada. la sungguh tak kuasa menahan haru, dan berterima kasih bisa diterima untuk menimba ilmu agama. Mereka pun larut dalam kehangatan, dan melupakan dendam yang ada.
“Lupakah ayah, siapa Pramoedya itu?” tanya Rusydi sambil mengingat-ingat bagaimana fitnah yang dilontarkan para aktivis Lekra terhadap ayahnya itu.
“Tidak. Betapapun dia membenci kita, kita tak berhak menghukumnya. Allah-lah Yang Maha Adil. Dan dia pun sudah menjalani hukumannya dari penguasa di negeri kita ini,” jawab Buya Hamka.
Selayaknya kisah roman yang tak melulu hadir dengan senyum bahagia. Ada kalanya kisah cinta antara rakyat dan tanah airnya, yang terangkum dalam Romansa Nusantara ini akan jauh lebih indah bila kesedihan, kepedihan, ataupun rasa haru hadir di dalamnya, menjadi bumbu-bumbu cinta yang menawan tiada tara.
Begitulah makna yang bisa kuambil dari kisah dua sastrawan raksasa idolaku ini, mereka mungkin bisa saling berseteru karena perbedaan ideologi, namun sepanjang hidup walau terlunta-lunta oleh kekacauan zaman, mereka tetap konsisten bergerak dan berkarya demi kepentingan bangsa, bukan untuk satu pihak tertentu maupun pribadi. Sehingga jasa dan karya mereka masih terkenang hingga hari ini dan telah sangat berkontribusi dalam menaikkan semangat membaca generasi setelahnya.
Guruku pernah mengingatkan agar jangan cepat terkesima dengan orang tertentu, karena sejarah tidaklah sesederhana mengklaim baik dan buruknya seseorang semasa dia hidup. Cerita bisa dimanipulasi, namun sejarah tidak. Seorang pahlawan yang penuh jasa bisa dihilangkan kesalahannya bak ditelan bumi, sebaliknya seorang pengkhianat bisa diceritakan sedemikian rupa agar jasanya seakan memenuhi langit.
Oleh karenanya, di momen peringatan Hari Buku Nasional ini, mari kita jadikan buku, novel dan semua bacaan lainnya bukan sekadar peringatan sesaat, melainkan perlawanan terhadap kelaparan nalar dan kemunduran ingatan. Mari jadikan literasi sebagai sikap hidup yang menuntut kita membaca lebih dalam dari sekadar klaim, menimbang lebih jernih dari sekadar emosi, dan menguji lebih berani dari sekadar prasangka, sebab romansa Nusantara tak akan terusir oleh fitnah, tak akan padam oleh anggaran yang menyusut, dan tak akan kehilangan maknanya selama kita berani menjaga isi kepala dan hati lewat halaman-halaman yang kita rawat bersama.”
===
Samarinda, 17 Mei 2026
Seorang yang sangat berhajat kepada ampunan Tuhan-Nya,
syafa’at Rasul-nya, juga ridha orang tua dan guru-gurunya.
![]()