Dakwah RRI Pro 1, MENATA KESEIMBANGAN HIDUP YANG IDEAL

RINGKASAN CERAMAH

MENATA KESEIMBANGAN HIDUP YANG IDEAL

Oleh : Dr. H. Achmad Ruslan Afendi, M.Ag

Pengurus Komisi Pengkajian dan Penelitian

Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Timur

Disiarkan oleh Pro 1 RRI Samarinda dalam program Mutiara Pagi

Sibuk Belum Tentu Bahagia

Di era digital yang serba cepat, manusia sering kali semakin sibuk bekerja dan mengejar kesuksesan material, namun justru semakin sulit menemukan ketenangan, kebahagiaan, dan kemutmainahan atau ketenteraman jiwa. Dari kegelisahan inilah tausiah tentang menata keseimbangan hidup menjadi relevan, karena hidup yang penuh kesibukan belum tentu menghadirkan kebahagiaan.

Konsep Hidup Seimbang dalam Islam

Islam mengajarkan prinsip moderasi (wasatiyah) sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Baqarah ayat 143, yang menjadikan umat Islam sebagai umat pertengahan — tidak berlebihan dan tidak pula berkekurangan. Keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat ditegaskan dalam QS. Al-Qasas ayat 77, di mana umat Islam diperintahkan mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagian duniawinya.

Enam Dimensi Kehidupan yang Perlu Diseimbangkan

Terdapat enam dimensi kehidupan yang perlu dijaga keseimbangannya, yaitu hubungan dengan Allah (hablum minallah/spiritualitas), hubungan dengan diri sendiri (fisik dan mental), hubungan dengan keluarga (emosional), hubungan dengan pekerjaan (profesionalitas), hubungan dengan masyarakat (sosialitas), serta hubungan dengan alam (teoekologi). Keenamnya saling menopang sehingga tidak boleh satu dimensi ditinggalkan demi dimensi yang lain.

Faktor Penyebab Kegagalan Menjaga Keseimbangan

Sejumlah faktor kerap membuat seseorang gagal menjaga keseimbangan hidup, di antaranya tidak memiliki skala prioritas, terlalu mengejar pengakuan secara berlebihan (overacting), tidak mampu berkata “tidak” terhadap hal-hal yang mendatangkan mudarat, terlalu banyak membandingkan diri dengan orang lain sebagai dampak negatif media sosial, serta mengabaikan kesehatan dan waktu spiritual.

Strategi Praktis: Rumus 5S

Untuk menata keseimbangan hidup, narasumber menawarkan rumus praktis 5S. Sadari, yakni menyadari bahwa waktu hidup di dunia ini terbatas. Susun prioritas, yaitu mengatur waktu, tenaga, dan keuangan berdasarkan skala prioritas. Seimbangkan waktu, dengan mengelola jatah 24 jam secara optimal untuk berbagai aspek kehidupan. Sederhanakan kehidupan, agar tidak hidup melampaui batas kemampuan atau “besar pasak daripada tiang”. Dan syukuri, yakni mensyukuri segala kondisi dengan tetap beriman dan beribadah kepada Allah.

Sesi Tanya Jawab

Dalam dialog bersama pendengar, narasumber menegaskan bahwa manusia adalah tempatnya salah dan khilaf serta senantiasa diuji dalam berbagai kondisi — baik saat sehat, kaya, memegang jabatan, maupun dalam kesempitan. Cara utama mencegah keterlenaan adalah mendekatkan diri kepada Allah (Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub) dan rutin membaca Al-Qur’an.

Mengenai toleransi dan perbedaan pendapat, dijelaskan bahwa perbedaan pandangan dalam masalah muamalah dan furuiah adalah hal biasa — ikhtilaf adalah rahmat — dan tidak boleh menimbulkan kebencian selama tidak menyentuh prinsip akidah. Adapun tentang sedekah, ditegaskan bahwa bersedekah tidak harus dengan harta benda; ia juga bisa melalui pikiran yang cerdas, nasihat yang baik, atau tenaga demi kebaikan bersama.

Penutup

Ukuran keberhasilan hidup yang ideal bukanlah seberapa banyak harta yang dikumpulkan, melainkan seberapa besar makna dan manfaat yang diberikan kepada kehidupan orang lain (khairunnas anfauhum linnas). Prinsip hidup ideal dirumuskan dalam ajakan untuk bekerja dengan sungguh-sungguh, beribadah dengan khusyuk, mencintai keluarga dengan tulus, menjaga kesehatan dengan disiplin, bersosial dengan kepedulian, dan menjalani kehidupan dengan penuh syukur.

Saksikan tayangan lengkapnya di: https://www.youtube.com/live/tag3Na82MVI

Loading

Solverwp- WordPress Theme and Plugin

Sosial Media MUI Kaltim