Dakwah RRI Pro 1, HAK-HAK RASULULLAH SAW ATAS UMAT ISLAM

RINGKASAN CERAMAH

HAK-HAK RASULULLAH SAW ATAS UMAT ISLAM

Oleh : H. Muhammad Alwan

Wakil Ketua Lembaga Pembinaan dan Pemberdayaan Muallaf

Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Timur

Disiarkan oleh Pro 1 RRI Samarinda dalam program Mutiara Pagi

Dua Pusaka yang Menjaga Umat dari Kesesatan

Di akhir hayatnya, Rasulullah SAW mengingatkan umatnya akan dua pusaka utama yang, jika dipegang teguh, akan menyelamatkan mereka dan menjaga agar tidak tersesat selama-lamanya. Pusaka pertama adalah Kitabullah, yakni Al-Qur’an, sebagai pedoman hidup utama untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Pusaka kedua adalah Sunnah Rasulullah SAW, yang berfungsi menjelaskan, memperinci, memperagakan, dan menafsirkan kandungan Al-Qur’an. Sunnah ini terbagi menjadi hadis qauli (ucapan), hadis fi’li (perbuatan), hadis takriri (ketetapan), serta sifat-sifat mulia beliau.

Momentum bulan Rabiul Awal menjadi pengingat bahwa nama Nabi Muhammad SAW adalah nama yang tidak pernah lekang oleh zaman — senantiasa disebut dan dimuliakan. Kecintaan umat kepada beliau dibuktikan melalui selawat yang terus berkumandang dalam azan, salat, dan zikir.

Kasih Sayang dan Pengorbanan Rasulullah SAW

Allah SWT menggambarkan betapa besar perhatian dan kasih sayang Nabi Muhammad SAW dalam mengentaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya (minad-dzulumati ilan-nur). Dalam QS. At-Taubah ayat 128 ditegaskan bahwa telah datang seorang rasul dari kaum sendiri yang sangat berat merasakan penderitaan umatnya, sangat prihatin terhadap keimanan mereka, serta amat belas kasih dan penyayang kepada orang-orang beriman.

Demikian pula dalam QS. Ali Imran ayat 164, Allah menegaskan karunia-Nya atas diutusnya Nabi yang membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa, serta mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah (Sunnah), padahal sebelumnya manusia berada dalam kesesatan yang nyata.

Hak-Hak Rasulullah SAW yang Wajib Dipenuhi Umat

Sebagai konsekuensi dari pengakuan syahadat rasul, umat Islam wajib memenuhi sejumlah hak Baginda Nabi Muhammad SAW. Yang pertama adalah mencintai beliau melebihi segala-galanya. Kecintaan kepada Nabi merupakan syarat mutlak untuk merasakan kelezatan iman; salah satu dari tiga penanda lezatnya iman adalah ketika Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selain keduanya. Kecintaan ini bahkan harus melebihi kecintaan kepada diri sendiri, orang tua, dan anak, mengingat besarnya jasa beliau dalam menyelamatkan manusia.

Hak kedua adalah mengikuti (ittiba’) sunnah dan hadis beliau. Barometer kecintaan seseorang kepada Allah SWT dibuktikan dengan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, sebagaimana firman-Nya, “Qul in kuntum tuhibbunallah fattabi’uni” (QS. Ali Imran: 31). Ketaatan mutlak kepada Rasul pada hakikatnya adalah ketaatan kepada Allah SWT (QS. An-Nisa: 80). Karena itu, dalam urusan ibadah mahdah, umat Islam dilarang melakukan inovasi atau penambahan (bid’ah) di luar tuntunan dan tata cara yang beliau contohkan.

Hak ketiga adalah menjadikan Rasulullah SAW sebagai figur teladan (uswatun hasanah) dalam berbagai lini kehidupan. Beliau adalah teladan sebagai guru yang mendidik umat, sebagai panglima yang memimpin langsung peperangan dengan strategi bijak, sebagai saudagar yang mempraktikkan perdagangan jujur sejak muda ketika mendampingi pamannya ke Syam dan berkongsi dengan Siti Khadijah, serta sebagai politisi dan diplomat ulung yang ucapannya dipegang teguh kawan maupun lawan karena kejujurannya hingga digelari Al-Amin.

Tiga Syarat Meneladani Akhlak Rasulullah SAW

Berdasarkan QS. Al-Ahzab ayat 21 (Laqad kana lakum fi rasulillahi uswatun hasanah), terdapat tiga prasyarat agar seseorang benar-benar dapat meresapi dan meneladani akhlak Rasulullah SAW, bukan sekadar menggugurkan kewajiban memperingati hari besar. Pertama, liman kana yarjullaha, yaitu bagi orang yang mengharap rida dan perjumpaan dengan Allah — menumbuhkan kesadaran bahwa kematian adalah misteri, sehingga ia bersegera beramal saleh dan tidak menunda kebaikan (QS. Al-Kahfi: 110). Kedua, wal yaumal akhir, yaitu beriman kepada hari akhir — menyadari bahwa segala perbuatan akan dipertanggungjawabkan, sehingga ia berhati-hati agar ibadahnya tidak sia-sia karena menyimpang dari tuntunan. Ketiga, wa dzakarallaha katsiro, yaitu banyak berzikir kepada Allah dalam setiap langkah dan kondisi kehidupan.

Sesi Tanya Jawab

Menanggapi pertanyaan Pak Susongko dari Samarinda tentang kisah Rasulullah SAW yang menangis saat mencium cucunya, penceramah membenarkan bahwa Nabi pernah menyampaikan bahwa Husein akan wafat secara syahid. Hal itu terbukti pada masa kepemimpinan Yazid bin Muawiyah, ketika Husein menolak berbaiat karena menilai Yazid kurang layak menjaga moral kepemimpinan. Peristiwa tragis di Karbala — ketika Husein dipenggal dan kepalanya diarak — menunjukkan betapa biadabnya peradaban Arab jahiliah saat itu, sehingga pengutusan Nabi Muhammad SAW di Jazirah Arab sangatlah tepat untuk mengubah peradaban yang gelap menjadi terang benderang.

Pak Mustamar melalui WhatsApp menanyakan maksud QS. Al-Baqarah ayat 214 tentang keluhan para sahabat terhadap cobaan hidup. Dijelaskan bahwa ayat tersebut turun ketika umat Islam terdahulu menghadapi intimidasi kaum kafir Quraisy, paceklik, kemarau panjang, kelaparan, dan kehausan yang ekstrem hingga hampir putus asa dan berseru, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ayat ini menegaskan bahwa surga tidak diraih sebelum seseorang diuji sebagaimana umat terdahulu, sekaligus memberi kepastian bahwa pertolongan Allah sangatlah dekat. Dalam konteks kekinian, di tengah kemarau panjang sebagian umat melaksanakan salat istisqa. Pelaksanaan istisqa sah sebagai ikhtiar spiritual; meski ujian kekeringan saat ini dinilai belum seberat krisis air umat terdahulu, memohon hujan kepada Allah tetap dianjurkan.

Penutup

Nabi Muhammad SAW adalah manusia biasa dari segi fisik (basyar), namun beliau dimuliakan dengan wahyu, terjaga dari dosa (maksum), serta memiliki akhlak yang agung. Mengingat kedudukan dan besarnya jasa beliau dalam menuntun umat, sudah sepatutnya umat Islam — terutama generasi muda — membuktikan keimanan dengan mengenal, mencintai, menaati, dan meneladani beliau secara utuh, sebagaimana beliau telah digelari Al-Amin bahkan sebelum diangkat menjadi rasul.

Saksikan tayangan lengkapnya di: https://www.youtube.com/live/k3J0wqghXDQ

Loading

Solverwp- WordPress Theme and Plugin

Sosial Media MUI Kaltim