
Catatan: Usamah Bima Shafa
PERJALANAN empat hari mendampingi Ir. Kusnadi Ikhwani, M.M. memberikan sudut pandang baru tentang arti sebuah pengabdian. Sosok pengusaha yang kerap menjuluki dirinya sebagai “tukang ayam jalur akhirat” ini benar-benar memegang teguh prinsip hidup: genggam dunia di tangan, jangan masukkan ke dalam hati.
Meski berhasil membangun imperium bisnis kuliner hingga memiliki 50 outlet di seluruh Indonesia, Pak Kus—sapaan akrabnya—justru mengambil keputusan besar di puncak kejayaannya. Ia memilih beranjak dari kursi Direktur Utama demi mengabdikan diri sepenuhnya memakmurkan rumah Allah.
Bersama Ketua PW Muhammadiyah Kaltim di Masjid Ad Da’wah
Perubahan besar itu dimulai pada 2016, saat ia dipercaya mengelola Masjid Raya Al-Falah Sragen. Kala itu, kondisi masjid sangat sepi dengan jamaah shalat Subuh yang hanya berkisar tujuh orang. Di bawah kepemimpinannya, wajah masjid berubah drastis hingga kini rata-rata disesaki 450 jamaah setiap Subuh.
“Tidak perlu ada kekhawatiran dalam mengurus masjid, selama semuanya diniatkan tulus karena Allah dari lubuk hati yang paling dalam,” tegas Kusnadi, Rabu (27/8/2026)
Sejumlah terobosan keberanian pun ia lahirkan untuk mengubah wajah masjid, dengan membuka lowongan imam masjid kualifikasi wahid dan standar gaji dua kali UMR, yang kini menghasilkan enam imam tetap, selain itu juga mengoperasikan masjid 24 jam nonstop, lengkap dengan tempat menginap yang aman serta sarapan gratis bagi siapa saja dengan demikian masjid dijadikan pusat solusi sosial, mentransformasi masjid menjadi pusat penyelesaian masalah warga, bahkan menyediakan layanan biro jodoh.
Bagi Pak Kus, “Surat Keputusan” (SK) penunjukannya sebagai takmir merujuk langsung pada Surah At-Taubah ayat 18. Ayat tersebut ia terjemahkan sebagai tugas pokok takmir untuk memelihara keimanan, menegakkan shalat, mengelola zakat, dan melangkah tanpa rasa takut kepada selain Allah.
Melalui gerakan ini, ia gencar menanamkan growth mindset kepada para takmir dan marbot di pelosok Nusantara agar menjadi pribadi visioner, terbuka terhadap kritik, dan terus belajar.
Salah satu pesan mendalam yang selalu ia tekankan adalah melarang pengurus masjid mengendapkan saldo infak. “Kas masjid bukan untuk dipamerkan dalam laporan shalat Jumat, melainkan harus segera disalurkan untuk kemaslahatan umat. Kuncinya sederhana, jangan takut kas habis, sebab saat digunakan di jalan kebaikan, Allah akan mengalirkan rezeki yang jauh lebih berlimpah.” pungkasnya.(*)
![]()