
Oleh : Dr. Wahdatun Nisa M.A
رَمَضَانُ تَجَلَّى وَابْتَسَمَ
طُوْبَى لِلْعَبْدِ اِذَا اغْتَنَمَ
“Ramadhan telah menampakkan diri dan tersenyum,
Berbahagialah hamba yang memanfaatkan (kesempatan itu).”
Lantunan syair Ramadhānu Tajallā kini terdengar di mana-mana. Nada dan baitnya seakan menjadi pertanda bahwa tamu agung itu benar-benar telah tiba. Syair yang sederhana, namun sarat makna yang tidak hanya menyampaikan kabar datangnya Ramadhan, tetapi juga menghadirkan suasana harap, rindu, dan bahagia. Senyum Ramadhan bukan sekadar metafora, tetapi simbol keberkahan yang hadir, memanggil setiap hamba untuk kembali kepada fitrah, menata hati, dan menyambut kesempatan yang hanya datang sekali dalam setahun.
Syair ini mengingatkan bahwa ada waktu istimewa yang Allah siapkan untuk hamba-hamba-Nya. Waktu untuk memperbaiki diri, memperbanyak doa, dan memperkuat hubungan dengan-Nya. Ketika gema Ramadhānu Tajallā semakin sering terdengar, pertanyaannya adalah: sudahkah hati kita benar-benar bersiap menyambut kemuliaannya?
RAMADHAN SEBAGAI BULAN KEMULIAAN
أتاكم شهر رمضان شهر مبارك، فرض الله عليكم صيامه…
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya…” (HR. Ahmad bin Hanbal dan An-Nasa’i).
Ramadhan adalah bulan yang sarat kemuliaan. Sebagaimana Hadis tersebut menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Disebut sebagai syahrun mubārak (bulan yang diberkahi) karena di dalamnya Allah melimpahkan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Pada bulan ini pula Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, sehingga kemuliaannya bukan hanya karena waktu, tetapi karena limpahan karunia dan kesempatan besar untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Kemuliaan Ramadan juga tampak dari diwajibkannya ibadah puasa, sebuah ibadah istimewa yang melatih ketakwaan, kesabaran, dan keikhlasan. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Semua ini menunjukkan bahwa Ramadan adalah momentum agung untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan meraih derajat kemuliaan di sisi Allah. Siapa yang memanfaatkannya dengan iman dan harap pahala, maka ia akan keluar dari Ramadan dalam keadaan lebih bersih dan lebih dekat kepada-Nya.
Lebih dari sekadar pahala, Ramadhan menjadi momentum untuk kembali kepada fitrah dan menyucikan diri. Ia mengajak kita membersihkan hati dari dendam, iri, dan kelalaian, menata niat, serta menghidupkan kesadaran spiritual yang mungkin telah tertutupi oleh kesibukan dunia. Dengan demikian, bulan ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta, memperbaiki akhlak, dan menapaki jalan ketaqwaan yang sejati. Setiap detik yang dilewati Ramadhan adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri dan meraih kemuliaan yang hakiki.
RAMADHAN SEBAGAI TAMU AGUNG
Dalam tradisi keislaman, Ramadhan sering dianalogikan sebagai tamu agung yang hadir sekali dalam setahun. Analogi ini bukan sekadar retorika puitis, melainkan sarana refleksi spiritual yang mendalam. Seorang tamu agung menuntut penghormatan dan kesungguhan dari tuannya; demikian pula Ramadhan menuntut kesiapan lahir dan batin hamba untuk menyambut kehadirannya. Ia mengetuk pintu jiwa dengan lembut, membawa keberkahan, rahmat, dan ampunan, tetapi hanya akan memberi manfaat optimal bagi mereka yang menyambutnya dengan hati bersih, niat tulus, dan amal nyata.
Kehadiran Ramadhan sebagai tamu agung juga menegaskan prinsip kesementaraan kesempatan. Ia datang untuk beberapa waktu, kemudian pergi, meninggalkan hamba dengan pelajaran, pengalaman spiritual, dan, bagi yang lalai, penyesalan. Oleh karena itu, kesiapan menyambut Ramadhan bukan hanya terkait ritual lahiriah, seperti puasa, salat tarawih, atau tilawah Al-Qur’an, tetapi juga mencakup kesiapan batiniah: memurnikan niat, menahan diri dari perilaku tercela, memperkuat akhlak, dan memanfaatkan waktu seoptimal mungkin. Hamba yang bijak menyadari bahwa Ramadhan adalah tamu yang membawa rahmat, dan setiap detik yang dilewatkan dengan penuh kesadaran adalah investasi spiritual yang tidak ternilai.
Lebih jauh, analogi tamu agung ini menekankan dimensi edukatif dan transformasional dari Ramadhan. Seperti tuan rumah yang menata rumahnya untuk menerima tamu terhormat, manusia dipanggil untuk menata dirinya, membersihkan hati, dan memperbaiki perilaku. Ramadhan hadir untuk menuntun hamba kepada refleksi diri yang mendalam, kesadaran akan kerapuhan manusia, dan ketergantungan mutlak kepada Allah. Dengan kata lain, Ramadhan bukan hanya bulan ritual, tetapi “madrasah hidup” yang menghadirkan kesempatan bagi hamba untuk memperbarui diri, meningkatkan ketakwaan, dan menyambut kemuliaan Ilahi dengan sepenuh hati.
MENYAMBUT KEMULIAAN RAMADHAN
Menyambut Ramadhan berarti lebih dari sekadar menunggu datangnya bulan suci secara fisik. Ia adalah proses menyiapkan hati, niat, dan perilaku agar setiap detik bulan mulia ini dapat dimanfaatkan secara optimal. Dalam perspektif religius, kesiapan menyambut Ramadhan mencerminkan kesungguhan hamba dalam meraih ridha Allah dan kemuliaan spiritual yang unik hanya hadir di bulan ini. Hamba yang bijak memahami bahwa Ramadhan adalah kesempatan emas—ṭūbā li-l-‘abd iḏā ightanam—yang tidak boleh disia-siakan.
Beberapa langkah esensial dalam menyambut kemuliaan Ramadhan antara lain
1.Menata niat dan membersihkan hati. Niat yang tulus menjadikan setiap ibadah lebih bermakna, dan hati yang bersih memungkinkan cahaya Ramadhan menembus setiap relung jiwa. Memaafkan kesalahan orang lain dan menghapus dendam lama adalah bentuk kesiapan batin yang mendalam.
2.Meyusun target ibadah. Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbanyak amal shalih, baik ibadah mahdhah seperti salat tarawih, tilawah Al-Qur’an, dan qiyamullail, maupun ibadah ghairu mahdhah seperti sedekah, silaturahmi, dan kepedulian sosial. Perencanaan yang matang membantu hamba tetap konsisten dan tidak menyia-nyiakan waktu berharga bulan ini
3 Menghidupkan setiap detik dengan kesadaran spiritual. Setiap detik Ramadhan memiliki nilai yang tinggi di sisi Allah. Dengan kesadaran ini, puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi sarana pembelajaran spiritual: kesabaran, ketahanan diri, pengendalian hawa nafsu, dan kedekatan dengan Allah.
Dengan menyiapkan diri secara lahir dan batin, hamba tidak hanya menyambut Ramadhan sebagai tamu agung, tetapi juga menghadirkan kemuliaan Allah ke dalam setiap aspek kehidupan. Ramadhan yang disambut dengan kesungguhan menjadi momentum transformasi spiritual, tempat hati dan jiwa diperbarui, serta kesempatan untuk menata hidup agar lebih selaras dengan nilai-nilai ketakwaan.
PENUTUP
Kini, Ramadhan telah tampak dan tersenyum, membawa cahaya yang menyingkap gelap, dan rahmat yang menyejukkan hati. Ia bukan sekadar bulan yang datang dan pergi, tetapi tamu agung yang mengundang kita untuk menata diri, memperbaiki akhlak, dan menguatkan hubungan dengan Sang Pencipta. Senyum Ramadhan adalah panggilan bagi setiap hamba: jangan sia-siakan kesempatan, jangan biarkan waktu berlalu tanpa menimba keberkahan, dan jangan lupakan hakikat bulan suci ini sebagai momentum transformasi spiritual.
Menyambut Ramadhan berarti membuka hati dengan kesungguhan, menata niat dengan ketulusan, dan mengisi setiap detik dengan amal yang diridhoi Allah. Ia adalah saat untuk membersihkan jiwa dari noda, menghidupkan kembali kesadaran spiritual, dan menumbuhkan kesabaran, keikhlasan, serta kepedulian sosial. Mereka yang menyambutnya dengan hati terbuka akan merasakan bahwa kemuliaan Ramadhan bukan hanya terletak pada pahala dan ibadah, tetapi juga pada perubahan diri—hati yang lebih lembut, jiwa yang lebih bersih, dan hidup yang lebih selaras dengan nilai-nilai ketakwaan.
Semoga Ramadhan kali ini menjadi lebih dari sekadar rutinitas tahunan. Semoga ia menjadi cahaya yang menuntun kita, tamu agung yang memberi ampunan, dan kesempatan untuk kembali kepada fitrah yang hakiki. Dan semoga setiap senyum yang ia bawa membangkitkan kesadaran bahwa kemuliaan bulan suci ini bukan hanya untuk dinikmati, tetapi untuk diraih dengan kesungguhan, ketulusan, dan cinta kepada Allah. 🌙✨
MARHABAN YAA RAMADHAN
![]()