Renungan Isro, Mi,raj Nabi Muhammad Saw 1442

DR KH Mansyah HB.MPd (Penulis)

Samarinda, www MUIKaltim,or,id- Tanggal  27 Rajab 1442 H 11 Maret 2021 , bertepatan dengan sebagian ummat Islam melakukan syiar isi perjalana Nabi Muhammad SAW  dari Masjidil Haram kebaitul Makdis atau Masjidil aksho di palestina dan dari sana biliau d Mi,raj kan oleh Allah SWT,

Peristiwa ini tentu tidak dapat dinalar dengan  akal saja, namun diyakini dengan iman yg murni bahwa peristiwa metafisikan itu betul terjadi pada diri Rasulullah Saw beliau tidak bercerita macam macam hanya satu Allah disembah melalui metode shalat,dan shalat pun diajarkan caranya oleh Allah melalui malaikat Jibril disampaikan kepada Rasulullah Saw dan beliau mengajarkannya kepada para sahabat solat . Dan hingga sekarang ditegakkan ummat Islam didunia ini.

Seluruh urusan perbuatan manusia yg benar baik pertama kali diperiksa diakhirat kelak oleh Allah. Intinya ummat Islam jangan tinggalkan shalat,itu secara spesifik.

 Allah mengundang Rasulullah untuk menerima solat wajib  lima waktu . Shalat untuk ummat manusia yg muslim,membedakan orang Islam dgn orang kafir .

Shalat adalah  Mi,rojnya  orang Islam. Salat Kata Rasululloh SAW  sebagai sarana  menghambakan diri kepada   Allah.

Shalat  sebagai media komunikasi batin antara hamba dan Rabnya. Shalat adalah tempat mengingat Allah yg sangat tinggi derajatny Al Qur’an surat Toha ayat 14: terjemahan Artinya : Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
          Mengutip Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah 14. Kemudian Allah menjelaskan wahyu yang disampaikan kepadanya dengan FirmanNya, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali Aku.(Alloh)

Maksudnya Allah-lah yang berhak diibadahi, dan Dzat yang melekat padaNya sifat tersebut. Sebab, Dia yang Mahasempurna dalam nama-nama dan sifat-sifatNya, Esa dengan perbuatan-perbuatanNya, tidak ada sekutu bagiNya, tidak ada bandingan, padanan, dan dzat yang sama dengannya.

Maka sembahlah Aku(Alloh) ,” dalam segala macam ibadah, yang zahir maupun yang batin, ibadah yang prinsip maupun yang bersifat sekunder. Selanjutnya, Allah menyebutkan shalat secara khusus, meskipun sudah termasuk dalam bingkai ibadah, karena keutamaan dan kemuliaannya serta muatannya yang mengandung penghambaan hati, lisan dan anggota tubuh lainnya.

            Firman Allah, “Dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu,” huruf lam berfungsi sebagai ta’lil (penyebutan sebab). Maksudnya, tegakkanlah shalat untuk tujuan mengingatKu. Sebab mengingat nama Allah merupakan tujjuan yang paling agung. Dengan itulah hati menghambakan diri kepada Allah. Dengan itu pula, kebahagiaan tergapai. Hati yang kosong dari dzikir kepada Allah, niscaya akan menjadi kosong dari segala kebaikan. Ia benar-benar telah mengalami kerusakan yang parah, maka Allah menggariskan berbagai macam ibadah yang ditujukan untuk mengingatNya, terutama pada shalat. Allah berfirman, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.

Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Ankabut:45).

Maksudnya, kandungannya berupa dzikrullah lebih besar daripada (fungsinya) mencegah dari perbuatan keji dan kemungkaran. Jenis ini, disebut tauhid ilahiyah (uluhiyah) dan tauhid ibadah. Uluhiyah (hak disembah) merupakan sifat Allah. Sementara ubudiyah (menghambakan diri) merupakan sifat makhlukNYa.
 Intinya  Ummat Islam yg tidak mau solat bukan ummat Muhammad dan jika wafat tidak wajib disolatkan makamkan saja tanpa ada Fardu kifayah untuknya

(Penulis Dr Mansyah HB,MPd)