MUI Kaltim Gelar Seminar Pendidikan Berkarakter

 

Para Nara Sumber dan Ketua MUI

Para Nara Sumber dan Ketua MUI

Samarinda,  WWW,MUI Kaltim ,org-   MUI Kaltim bekerjasama dengan komisi perundang undangan dan puspiga( Pusat Pembelajaran Keluarga) Prov Kaltim  menggelar seminar pendidikan penguatan Keluarga,  belum lama ini (Sabtu 7 Desember 2019), di Hotel Bumi Senyiur Jalan n. Pangeran Diponegoro No.17-19, Pelabuhan, Kec. Samarinda Kota, Kota Samarinda, Kalimantan Timur .

 Gelar seminar tersebut  Sebagai salah satu  upaya untuk meningkatkan kwalitas pendidikan di kaltim. Seminar dengan tema” pendidikan bekal untuk menjadi keluarga yang hebat, pendidikan baik, muridnya cerdas dan keluarga bahagia” ini mendatangkan nara sumber dari psikolog  Puspiga (pusat Pembelajaran kluarga)Wahyu  Nhira Utami, M.P.ai ,  dari MUI Provinsi kaltim Dr Abnan Pancasilawati. Dan tokoh muda  dibidang PendidikanSuwardi Sagama,SH,MH, dosen  diberbagai perguruan tinggi kaltim seperti IAIN, UNMUL, dll.

Seminar yang dihadiri para tokoh agama dan tokoh masyarakat, seperti Yoes Soetomo, KH Hamri Has, Pejabat Pemprov, para pendidik dan ustadh itu dihadiri sekitar seribu peserta dari berbagai sekolah yang ada di Samarinda.

Ketua MUI Kaltim KH Hamri Has  yang didapuk untuk membuka acara ini  dalam sambutanya  sangat mendukung kegiatan ini ,  pendidikan  yang berkwalitas akan  membuat generasi yang maju, bermartabat, iman dan berakhlak, pemuda yang berkarakter seperti diatas tentu sangat bermanfaat bagi  bangsa Indonesia kedepan.

“Saya sangat salut dengan seminar ini karena ini  memang peran MUI untuk membina dan membimbing umat yang madani berdasarkan Ahli Sunnah wal-jamaah,” Tegas KH Hamri Has.

Ketua MUI Kaltim Membuka Seminar

Ketua MUI Kaltim Membuka Seminar

KH Hamri Has meminta kepada generasi muda untuk rajin belajar, tinggalkan hura hura, tinggalkan narkoba dan pergulan bebas.

“Saya berpesan kepada generasi muda, kiranya untuk rajin belajar dan patuh  pada guru atau ulama, jadilah yang mengajar, atau yang belajar atau setidak tidaknya mau mendengarkan pelajaran,” tambah Hamri Has.

Sementara itu dalam seminar sekitar 4 jam ini pembicara pertama, Wahyu  Nhira Utami, M.P.ai berpesan seorang guru dalam mengajar  di

era melinial ini harus sedikit sedikit tahu bahasa gaul anak jaman ekarang agar antara guru bisa menyatum bisa akrap sehingga anak mudah menyerap pelajaran.

“Seperti kata Baper, kuy, julid, bosque, generasi micin hingga tercyduk merupakan kata atau istilah kekinian yang sering diucapkan oleh anak-anak generasi milenial. Kata-kata tersebut memang bukan bahasa baku dan terkadang aneh didengar. Meski begitu, banyak generasi melinial menggunakan bahasa tersebut di kehidupan sehari-hari atau saat beraktivitas di media sosial agar terkesan lebih kekinian,” Ujar Wahyu  Nhira Utami.

            Pembicara kedua  Dr Abnan Pancasilawati,  yang membawa makalah berjudul”era milinial harus tetap beradap dan berakhlak”  Menurut Abnan Pancasilawati, generasi milenial adalah generasi  ponsel, lebih suka e book dari pada buku ,menggeluti medsos,  generasi melinial dipenuhi broadcast info akun medsos, promosi online, akhirnya proses belajar pun terkena dampaknya, belajar tidak hanya disekolah tapi dirumah dan dimanapun berada bisa.

Namun ujar Abnan, di era melinial ini akhlak adalah  yang harus dimiliki para remaja, dan Untuk menjadi anak yang berakhlak  anak harus mempunyai mental yang kuat.  Generasi  yang berakhlak adalah adalah tujuan kita semua termasuk generasi muda.

“Jadi generasi yang cerdas tangguh dan berakhlak mulia adalah cita cita  generasi melenial seperti dalam Alquran S Al-Imron 102,” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam,”ujar Abnan Pancasilawati mengutik Ayat Al-quran.

Abdan Pancasilawati juga mengutip Perkataan Imam Syafii, bahwa pemuda yang unggul di era melinial adalah pemuda yang mempunyai kwlitas ilmu dan ketakwaanya, jika keduanya tidak melekat pada pribadinya , ia tidak layak disebut pemuda, karena pemuda ini adalah calon pemimpin bangsa dan harus punya karakter.

Sementara itu pembicara terakhir Suwardi Sagama,SH,MH dalam makalahnya berjudul karakter anak di keluarga siapa yang bertanggung jawab , menurutnya guru,  orang tua dan lingkungan sama sama bertanggung jawab untuk mendidik anak.

Menurutnya , yang bertanggung jawab terhadap pembentukan karakter anak pertama adalah , lingkungan keluarga. Baik atau buruknya perilaku, tergantung dari orang tua atu keluarga. Ke dua, lingkungan rumah dimana baik buruknya perilaku anak ditentukan oleh teman bermain, tetangga jauh dan dekat, dan terkhir adalah lingkungan Pendidikan. Baik buruknya perilaku anak berasal dari guru, administrasi pendidik dan teman sekolah.

“Guru hendaknya, Mengajarkan untuk mengutamakan proses dari pada nilai, mengajarkan untuk berperilaku yang tidak merugikan orang lain, mengajarkan untuk berkata dan bersikap jujur, mengajarinya cara bermusyawarah untuk kebaikan keluarga,”Ujarnya

Kata Suwarsi sagama,  tantangan pendidikan  adalah terkadang mengalami kegagalan, ada masalah dengan teman seperti punya musuh, putus dengan pacar dan lain lain. Ada juga masalah keluarga dan masalah pribadi lainya.

Oleh karena itu  Suwardi berpesan pada anak agar sukses dan bisa melewati berbagai tantangan dengan cara anak harus punya tekad yang kuat , ketekunan, iman,  dan bertakwa kepada AllohTuhan. (Roghib)