MUI Kaltim Gelar Pelatihan Fardhu Kifayah

Praktek Shalat dan Mengkafani Jenazah

Praktek Shalat Jenazah Jenazah (Fhoto Atas) Dan Mengkafani Jenayah(Foto Bawah)

Samarinda www, MUI Kaltim ORG-Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Timur belum lama ini (20/1) menggelar pelatihan fardhu kifayah. Bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama  Provnsi  Kaltim , acara ini diikuti  oleh 70 peserta dari berbagai ungsur, seperti Pengurus Masjid, ormas Islam, Majelis Taklim, Remaja Masjid, Para Mahasiswa IAIN, Alumni PKU   dan  lain lain.

Acara yang digelar di kantor MUI Jalan Harmonika NO 1.b Kelurahan Dadimulya Kota Samarinda ini menghadirkan nara Sumber dari ungsur Ketua MUI  KH Muhammad Haiban dan dibantu  beberapa ungsur Pengurus MUI dan Seketariat MUI.

Ketua MUI Kaltim KH Hamri Has dalam sambutanya ketika membuka Pelatihan ini  memberikan apresiasi atas pelaksanaan pelatihan  atas kerjasama MUI kaltim dan Kemenag kaltim.

Mengurusi Jenayah adalah Fardhu kifayah hukumnya  artinya bila satu yang mengerjakanya yang lain gugur kewajibanya, tapi  umat Islam diwajibkan untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan bagaimana caranya memandikan, mengkafankan, mensalatkan dan menguburkan jenazah sesuai dengan yang diajarkan dalam Alquran dan Al-Hadis. “Atas nama MUI Kaltim  kami menyampaikan terima kasih atas inisiatif dan suksesnya pelaksanaan pelatihan fardhu kifayah ini, semoga dilain waktu daerah daerah lainya juga ikut menggelar semacam ini, ” ungkapnya.

Kegiatan pelatihan ini, dikatakan KH Hamri Has , dipandang sangat penting guna membina kualitas keagamaan yang lebih mendalam di masyarakat. Di samping juga sebagai wahana untuk menciptakan kegiatan kehidupan yang berkualitas dan mandiri. Melalui pemenuhan kebutuhan spiritual.  Dan melalui rangkaian pelatihan, diharapkan

Peserta Pelatihan fardu Kifayah laki laki

Peserta Pelatihan fardu Kifayah laki laki

KH Hamri Has, dapat memotivasi seluruh masyarakat. Bukan hanya yang selama ini sudah membantu penyelenggaraan jenazah. Namun juga terciptanya generasi baru untuk penerus pelaksanaan fardhu kifayah di masyarakat.

KH Hamri Has mengakui selama ini melaksanakan fardhu kifayah bagi masyarakat masih perlu diberikan motivasi”Banyak kita temui di acara kematian  yang melayat berthuyuk (banyak ) tapi minim yang menshalati, alasannya bermacam macam, mulai soal batal wudhukah, soal sudah ada ustdhnya yang lebih berhakkah dan lain lain alasannya,”ujarya

oleh karena itu dengan adanya pelatihan fardhu kifayah ini diharapkan masyarakat semakin banyak yang sadar bahwa melaksanakan fardhu kifayh pahalanya sangat besar.

Hal ini telah disebutkan secara jelas dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An Nasai, At Turmudzi, Ibnu Majah, Ath Thayalisiy, dan Ahmad, dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, dari Rasulullah  Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Barangsiapa menyaksikan jenazah (dari rumahnya). (Di dalam satu riwayat), ” Barangsiapa yang mengiringi jenazah seorang muslim dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala sampai disholatkan maka ia akan mendapatkan pahala satu qirath. Dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikuburkan, (di dalam riwayat yang lain, sampai selesai semua kepengurusannya) maka ia mendapatkan pahala dua qirath” .

Ditanyakan, ” Apakah pahala dua qirath itu?” . Beliau menjawab, ” Yaitu sebesar dua gunung yang besar” . (Di dalam riwayat yang lain), ” Setiap satu qirath ukurannya itu sebesar gunung Uhud” .

Hadis tersebut disebutkan dalam kitab Al Ihkam fi Syarh Umdatul Ahkam, menjelaskan keutamaan mengurus jenazah.

Selain itu, menurutnya, juga yang paling penting adalah menyamakan persepsi tentang penanganan fardhu kifayah jenazah. Hal ini juga menjadi salah satu pentingnya kegiatan pelatihan fardhu kifayah ini. “Ini juga sebagai motivasi kita kepada masyarakat untuk membentuk lembaga atau pun rukun kematian serta sebagai bagian kewajiban bagi seluruh umat Islam yang masih hidup dalam mengurus jenazah,” ungkapnya.

Peserta Perempuan

Peserta Perempuan

Sementara itu KH Haiban sebagai nara sumber memgatakan, kegiatan ini berlansung selama dua hari, Hari pertama adalah tiori dan esok harinya dilanjut dengan praktek. peserta terdiri dari laki laki dan perempuan.

“Untuk tiori antara peserta perempuan dan laki laki dicampur, sedangkan ketika praktek dipisah,karena ada perbedaan laki laki dan perempuan, terutamaa soal teknik mengkafaninya,”kata KH haiban.

Haiban Melanjutkan materi pelatihan Fardhu kifayah adalah bagaimana yang harus dilakukan atau dikerjakan masyarkat muslim yang ketika ada yang meninggal dunia , mulai dari ketika sakit, sakaratul maut, cara memandikan mayatnya, mengkafani, menshalati dan menguburkannya hingga selamatanya.Redaktur/Pewarta: M Roghib