MUI Kaltim: Di Pundak Guru Masa Depan Keimanan Anak Didik Diletakkan

Wakil Ketua MUI Katim HS Alwy AS

Wakil Ketua MUI Katim HS Alwy AS

Balikpapan –www.muikaltim.org-  Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Timur, H. Sayid Alwi, menyebut guru agama berperan besar dalam menentukan arah keimanan anak didik. Oleh sebab itu dia meminta guru untuk memahami agama secara utuh dan dapat meneruskan ke murid-muridnya secara benar.

Demikian disampaikannya saat menjadi pemateri di kegiatan Integrasi Nilai-nilai Agama dan Budaya dalam Menumbuhkan Harmoni di Sekolah yang diselenggarakan oleh BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Timur, belum lama ini (17/7/2019), di Balikpapan. Seratusan guru dari tingkat PAUD hingga SMP dan sederajat dilibatkan sebagai peserta kegiatan.

“Pemahaman agama adalah pondasi. Orang yang tidak memahami agama secara benar adalah target bagi para penyebar paham radikal terorisme. Anda yang hadir di sini adalah guru agama, di pundak Andalah masa depan keimanan anak didik diletakkan,” kata Sayid.

Sayid meminta guru agama, khususnya di Kalimantan Timur, untuk memedomani Fatwa MUI No.3 tahun 2004 dalam hal pengetahuan seputar terorisme.

Di kesempatan tersebut Sayid juga menyebutkan beberapa penyebab timbulnya paham radikal dan aksi terorisme, yaitu ketiadaan dan kesalahan dalam memahami teks-teks agama, kedangkalan berfikir dan emosional.

Penyebab lain paham radikal dan aksi terorisme, masih kata Sayid, adalah kesalahan dalam memahami makna jihad. “Oleh karenanya anak didik harus ditanamkan sejak dini perbedaan jihad dan terorisme. Jangan sampai mereka terpapar paham radikal dan melakukan kejahatan yang dilabeli sebagai jihad,” tegasnya.

Faktor isu-isu seputar perlakuan neara Barat juga dinilai oleh Sayid sebagai penyebab timbulnya sikap radikal dan aksi terorisme. Oleh sebab itu guru agama juga diminta terus mengupdate pengetahuan seputar itu agama tidak terperdaya informasi bohong yang menyesatkan.

“Cari informasi dari sumber yang resmi, yang kredibel. Jangan termakan informasi bohong dan terperdaya hingga ikut dalam menyebarluaskan paham radikal terorisme,” tutup Sayid.

Kegiatan Integrasi Nilai-nilai Agama dan Budaya dalam Menumbuhkan Harmoni di Sekolah merupakan bentuk pelibatan guru agama dalam pencegahan terorisme yang diselenggarakan oleh BNPT dan 32 FKPT se-Indonesia. Melalui kegiatan ini BNPT dan FKPT menginginkan guru agama untuk dapat memahami ajaran agama secara utuh, sehingga mampu mendorong terciptanya harmoni dalam kehidupan di sekolah. [shk /BNPT Kaltim)