
SAMARINDA (muikaltim) Majelis Ulama Indonesia (MUI kaltim melalui Komisi Pengkajian dan Penelitian terus melakukan riset, penelaahan, serta investigasi mendalam terhadap berbagai pemahaman, gerakan, atau aliran keagamaan yang berkembang di kalimantan Timur.
“Tugas kami Melakukan pengkajian, penelitian, dan penyelidikan secara proaktif, responsif, maupun antisipatif terhadap indikasi kesesatan atau ajaran kelompok/aliran keagamaan yang dianggap menyimpang dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah di wilayah Kalimantan Timur,” kata ketua Komisi dan penelitian MUI Prov kaltim Muhamad Ridwan ,S.HI,M.SI Ketika berbicara di podcast MUI kaltim di kantor MUI Prov kaltim Jalan Harmonika No 1 Samarinda (22/9/2026)
Dalam Podcast yang dipandu (Host) Anggota komisi Informasi , komunikasi dan digitalisasi Tri Wiyatmo Sumaryawan,S.Kom, M Ridwan mengakui komisi kepengurusan sebelumnya dari tahun 2023 sudah ada riset dan menemukan menemukan berbagai aliran kepercayaan dan dianggap mengganggu stabilitas keagamaan di kaltim.
Dan tugas komisinya saat ini akan mengkaji ulang akan terus mendeteksi apakah aliran aliran yang menyimpang itu kini tetap keberadaanya, atau tambah berkembang, pindah tempat dan lain lain.
Lanjut M Ridwan Tugas komisinya memang lebih berat dibanding kepengurusan sebelumnya, karena luas cakupanya yang dulu 8 sekarang menjadi 10 Kabupaten/Kota. Disamping itu dana akibat efisiensi juga menjadi kendala penelitian, Namun pihaknya tetap semangat dengan mengadakan Kerjasama pihak ketiga dan akan meneruskan kajian/penelitian yang sudah adad untuk dilanjutkan.
Kata Dosen UNMUL ini, kriteria aliran sesat yang jadi objek penelitian Adalah aliran yang dianggap memenuhi 10 kriteria MUI pusat, dan ditambah aliran yang bertentangan dengan Pancasila, UUD 45 dan pemecah persatuan. Aliran aliran ini banyak ditemukan di hampir semua daerah kaltim, tapi yang paling banyak di wilayah wilayah yang kena Pembangunan lebih massif seperti di IKN, PPU dan Balikpapan.

M Ridwan menjelaskan, di komissinya punya beberapa program prioritas, seperti peningkatan Kesehatan mental anak , dan remaja muslim, kemudian pengembangan ekosistem halal, penguatan ekonomi syariah, penguatan peran ulama melalui platform digital serta peningkatan n, kualitas kehidupan keagamaan, Pendidikan, Kesehatan dan sosial.
“Dari program program prioritas yang paling harus mendapatkan perhatian Adalah masalah WTS (Wanita Tuna Susila) dan prostitusi yang kini berkembang menjadi masalah sosial perkotaan (urban) yang sangat kompleks,”tegasnya.
M Ridwan berpendapat, masalah sosial yang massif di kaltim sudah berkaitan dengan kehormatan , apalagi penduduk di kaltim mayoritas islam. Untuk itu peningkatan ekonomi dan sosial umat perlu dapat perhatian dari pemerintah.
M Ridwan berharap umat islam yang mayoritas ini bisa mewarnai dalam kehidupan masyarakat dengan mengambil peran nyata di masyarakat dalam pengembangan ekonomi syariah melalui pemberdayaan UMKM halal, pengelolaan dana sosial, dan partisipasi pada lembaga keuangan mikro., pengelolaan hotel berbasis syariah dan lain lain./
M Ridwan berpesan , pada kalangan gen z di era digital, kecerdasan buatan (AI) bisa menjawab pertanyaanmu dalam hitungan detik, membuat rangkuman, bahkan membantumu coding. Namun, IA punya batasan harus ada guru yang membimbing dan belajar berbagai literasi keislaman lainya.(M Roghib)
![]()