Dasyatnya Tangis Karena Allah

Tangis itu pada hakikatnya adalah kemampuan atau bakat yang bersifat alami. Ia lebih merupakan semacam alat komunikasi paling awal dan amat sederhana yang mampu dilakukan oleh setiap anak manusia. Maka dalam posisi seperti ini biasanyaa tangis dijadikan semacam khabar, alat ukur atau petunjuk tentang kondisi atau keadaan sorang bayi yang baru lahir.

Kalau terdengar tangisan, legalah orang-orang yang berada di sekelilingnya. Tetapi kalau ia lahir tanpa diikuti suara tangisan, maka risau, resah dan gelisahlah orang-orang yang berada di sekitar kelahirannya, terutama kedua orang tuanya.

Rasululllah Saw mengatakan bahwa setiap anak yang baru dilahirkan itu biasanya selalu diganggu (dicubit) syaithan, oleh karena itulah ia menangis, jadi walaupun kita pahami bahwa kemampuan menangis itu adalah bakat yang bersifat alami tetapi, untuk memunculkannya dibutuhkan semacam stimulus, rangsangan atau pendorong. Diperlukan sebab-sebabnya.

Dari satu sisi tangis bayi itu tadi bisa kita pahami sebagai sebuah reaksi fisik yang disebabkan oleh adanya gangguan syaithan, tapi dari sisi lain ia bisa kita anggap sebagai sebuah khabar gembira dari Allah Subhana Hua Ta’ala.

Jadi dengan demikian pahamlah kita bahwa tangisan itu ada disebabkan oleh syaithan dan ada pula yang disebabkan oleh Allah Ta’ala. (walau pun semua tangisan ini hakikatnya berasal dari Allah juga).

Dalam tulisan ini saya ingin membahas Tangis karena Allah Tangis  semacam ini biasanya disebabkan oleh perkara atau persoalan-persoalan yang bersangkut-paut dengan urusan akhirat, urusan iman atau menyangkut ersoalan-persoalan agama. Ia bisa di ibaratkan sebagai cemeti yang dilecutkan Allah kedalam bathin hamba-Nya yang sudah mulai kehilangan kendali. Hati yang sudah mulai cenderung merasa berani dan hebat sendiri. Hati yang sudah tidak mampu lagi merasakan getar-getar ke Maha Perkasaan Allah. hati yang sudah mulai melupakan betapa Allah itu adalah Raja segala Raja. Penguasa Hari Pembalasan. Pemilik beragam siksa yang amat pedih. Atau ia juga bisa diibaratkan sebagai kendali yang Allah kenakan ke dalam lubuk hati hamba-Nya yang sudah mulai liar dan lalai dalam berpacu untuk mengenang betapa lemah, hina, dan penuh dosanya diri.

Oleh karena itu adanya jaminan Rasulillah bahwa tidak akan disentuh api neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah itu mestilah kita terima sebagai sebuah anugerah dan sekaligus sebagai sebuah tanggung-jawab. Kita sambut dengan iman dan kecerdasan. Kita munculkan dan kita jaga bakat alami yang kita miliki itu dari segala gangguan dan tipu daya syaithon.

Tunduk dan tersungkurlah. Kenanglah betapa jauhnya kita sudah keluar dari garis tujuan hidup yang semestinya. Sadarlah bahwa apabila kita tidak segera berubah, bertaubat dan mau kembali ke jalan yang diridhoi-Nya maka jangan salahkan siapapun kalau kelak Allah mencampakkan kita ke dalam Neraka-Nya. Na’udzubillahi min dzalik.

Oleh karena itu pahamilah benar benar bahwa tangisan karena Allah itu memang benar-benar kita butuhkan. “Menangislah! Kalau juga engkau tidak bisa, maka; tangis-tangiskanlah”. Demikian Sabda Rasulullah Saw.

Berkata sebagian ulama : “Tanda celaka itu ada tiga: Kuping yang tuli (dari mendengarkan peringatan-peringatan Allah) Hati yang keras ddan mata yang kering tak bisa menangis”

Rasulullah Saw Bersabda : “Diharamkan neraka atas mata yang menangis karena takut Allah, diharamkan neraka atas mata yang berjaga fi sabilillah dan diharamkan neraka atas mata yang terpejam dai hal-hal yang diharamkan Allah atau mata yang rusak karena (peperangan) fi sabilillah”. (HR. At-Thabrai dan Hakim dari Abu Hurairah).

Juga sebuah hadist yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan bersumber dai Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Tidak seorangpun hamba mukmin yang keluar air mata dari matanya sebesar kepala lalat karena takut Allah Swt lalu mengenai mukanya kemudian di jamah oleh api neraka selamanya”.

Allah SWT mengingatkan : “Tidaklah sama antara penghuni neraka dengan penghuni Surga itu. Penghuni Surga itu benar-benar berada dalam kesejah teraan, kebahagiaan dan limpahan berbagai macam kenikmatan dari sisi Allah.

Ahlul-Hikmah berkata : Ciri calon ahli surga itu adalah ia yang ketika hidup di dunia banyak menangis. Sedang cirri ahli neraka itu adalah ia ketika hidup di dunia ini banyak tertawanya”

Rasul Saw bersabda : “Seandainya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan banyak menangis (   Oleh Muhammad Helmi Abdurrahman S,Ag)