Dakwah RRI Pro 1, MENGAMBIL IBRAH HARI PAHLAWAN

RINGKASAN CERAMAH

 

MENGAMBIL IBRAH HARI PAHLAWAN

 

Oleh : Drs. K.H. Muhammad Haiban

 

Wakil Ketua Umum

Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Timur

 

Disiarkan oleh Pro 1 RRI Samarinda dalam program Mutiara Pagi

 

 

  1. Peringatan Hari Pahlawan dan Sejarah Perjuangan

 

Pada tanggal 10 November 1945, terjadi perang antara rakyat Indonesia melawan tentara Sekutu, yakni Belanda yang membonceng tentara Inggris. Inggris, sebagai salah satu anggota Sekutu, mendarat di Surabaya pada bulan Oktober 1945 dengan tujuan melucuti Jepang. Belanda ikut menumpang. Perundingan yang panas terjadi, di mana Inggris memaksa melucuti senjata Jepang, tetapi bangsa Indonesia menolak karena ini adalah kedaulatan negara.

 

Rakyat Indonesia, terutama di Surabaya dan Jawa Timur, melakukan perlawanan gigih terhadap mereka. Perlawanan ini dimotori oleh para ulama, di mana mayoritas pejuang adalah umat Islam. Segala kekuatan dikerahkan, baik fisik, perbekalan, maupun doa para ulama. Bahkan tokoh besar pendiri Nahdlatul Ulama, K.H. Hasyim Asy’ari, ikut terjun langsung dalam peperangan.

 

Para pejuang berguguran dalam peristiwa itu, dan mereka bergerak dilandasi dengan kesadaran, keikhlasan, dan tawakal kepada Allah SWT. Kiyai Hasyim Asy’ari menyampaikan Resolusi Jihad, yakni pernyataan kepada pemerintah pusat untuk melakukan perlawanan dengan segala daya dan kekuatan, serta menghimbau kaum muslimin untuk melawan tentara asing dengan niat membela diri, disertai doa dan harapan kepada Allah.

 

  1. Konsep “Pahlawan” dan Keikhlasan (Syarat Pahala)

 

Pahlawan, secara bahasa, berasal dari kata “pahala” dan “wan“, yang artinya orang-orang yang mendapat pahala. Syarat untuk mendapatkan pahala adalah niat ikhlas karena Allah.

Para tentara dan rakyat Indonesia yang melakukan perlawanan pada waktu itu tulus, hanya ingin mempertahankan hak sebagai pemilik negara Republik Indonesia yang baru diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Mereka berjuang tanpa mengharapkan jabatan (presiden, menteri, gubernur, pejabat). Keikhlasan inilah yang menjadi syarat sahnya seseorang mendapatkan pahala. Jika mereka meninggal, meninggalnya disebut syahid, yang mendapatkan pahala dari Allah.

 

  • Penjelasan Mendalam tentang Konsep Jihad

 

Untuk menjadi syahid, perjuangan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut Jihad.

  1. Definisi Bahasa Jihad:
    • Berasal dari kata al-juhdu (kemampuan), berarti mengeluarkan sepenuh tenaga dan kemampuan dalam mengerjakan sesuatu.
    • Berasal dari kata al-jahdu (kesukaran), berarti mengatasi kesukaran yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.
    • Singkatnya, jihad berarti bekerja keras, bersungguh-sungguh, mengerahkan seluruh kemampuan untuk menyelesaikan satu masalah atau mencapai tujuan tertentu.
  2. Definisi Raghib Al-Asfahani:
    • Mengerahkan segala kemampuan untuk menangkis serangan musuh yang tampak (orang kafir yang memusuhi Islam) atau menghadapi musuh yang tidak tampak (hawa nafsu).
    • Jihad mencakup usaha sekuat tenaga dan kemampuan untuk mengalahkan nafsu dalam diri manusia (jihad melawan hawa nafsu).
  3. Jihad dalam Perang (Fi Sabilillah):
    • Para fuqaha (ahli fikih) mengartikan jihad sebagai upaya mengerahkan segenap kekuatan dalam perang fi sabilillah (perang di jalan Allah), yang dilakukan menurut ketentuan-ketentuan Allah.
    • Islam mengatur peperangan agar tidak terjadi genosida/pembasmian etnis.
    • Perang yang dilakukan menurut aturan Islam disebut Perang Fi Sabilillah. Jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, disebut Jihad Fi Sabilillah.
    • Jihad Fi Sabilillah juga bisa berbentuk pemberian bantuan keuangan (misalnya membantu rakyat Palestina).
  4. Penting, kata jihad sering disalahpahami oleh kelompok Islamofobia dan diselewengkan dengan kata teroris. Jihad itu suci, teroris itu kejahatan. Jangan disamakan.
  5. Jihad dalam Al-Qur’an:
    • Kata jihad (dalam berbagai bentuk) disebutkan sebanyak 41 kali dalam Al-Qur’an.
    • Jihad dapat berarti perjuangan yang berat, mengerahkan segala kemampuan untuk meraih suatu tujuan, dan berperang.
    • Untuk arti berperang, Al-Qur’an lebih banyak menggunakan kata “Qital” (perang), seperti dalam Surah Al-Baqarah ayat 190: Wa qatilu fi sabilillah (Dan perangilah kamu di jalan Allah).

 

  1. Teladan Semangat Pahlawan di Masa Kini

 

Para pahlawan yang gugur di Surabaya pada bulan November 1945 memiliki dua hal utama yang harus kita teladani:

  1. Semangat yang Tinggi: Semangat tanpa perhitungan.
  2. Keberanian Berkorban: Berani berkorban bukan saja harta, tetapi juga jiwa.
  3. Jihad kita sekarang (di era modern) adalah harus berani.
  • Berani berkorban, apalagi hanya korban jabatan, atau kekurangan pendapatan. Itu tidak seberapa dibanding mereka yang taruhannya nyawa.
  • Pahlawan di era sekarang adalah mereka yang memiliki semangat tinggi dan berani berkorban. Tidak harus mengorbankan jiwa, cukup mengorbankan pikiran, tenaga, harta, dan jabatan demi kebaikan, demi bangsa dan negara Indonesia.

Loading

Solverwp- WordPress Theme and Plugin

Sosial Media MUI Kaltim