RINGKASAN CERAMAH
HIDUP INI ADALAH PILIHAN
Oleh : H. Agus Sudaryanto Taufiq
Pengurus Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat
Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Timur
Disiarkan oleh Pro 1 RRI Samarinda dalam program Mutiara Pagi
- Hakikat Pilihan Hidup
Hidup ini adalah sebuah pilihan. Mau senang, bahagia, ataupun susah, kita sendiri yang menentukan, termasuk pilihan surga atau neraka. Allah tidak mencampuri pilihan hidup manusia; semuanya terserah manusia mau bagaimana. Setiap pilihan akan memiliki konsekuensi:
- Hidup di jalan yang benar ganjarannya adalah surga.
- Hidup lupa akhirat dan cinta dunia balasannya adalah neraka.
- Janji Primordial (Perjanjian Manusia dengan Allah)
- Manusia telah berjanji di hadapan Allah sebelum dilahirkan ke dunia.
- Dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 172, Allah bertanya kepada roh manusia, Alastu bi Rabbikum (Bukankah Aku Tuhanmu)?
- Roh kita pun menjawab, Qalu bala syahidna (Betul, Engkau adalah Tuhan kami, kami bersaksi.
- Janji ini ditulis agar manusia tidak lupa, sebab sifat manusia adalah lupa (al-insan).
- Tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah, sebagaimana dalam Surah Az-Zariyat ayat 56: Wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun (Tidaklah Ku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah dan mengabdi kepada-Ku).
- Konsep perjanjian ini disebut sebagai perjanjian primordial yang tertanam dalam fitrah manusia.
- Empat Golongan Manusia Menurut Imam Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali, seorang ulama sufi ahli filsafat Islam, membagi manusia ke dalam empat macam golongan:
- Golongan I: Sa’idun fid dunya wa syaqiyyun fil akhirah (Bahagia di dunia, tetapi sengsara di akhirat).
- Ciri-ciri: Hidup bergelimang harta, memiliki rumah megah, mobil mengkilat, dan harta berlipat-lipat, namun hanya mengejar dunia dan lupa kehidupan akhirat.
- Kondisi: Lupa beribadah, lupa bersedekah, dan berbuat zalim.
- Peringatan Allah: Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian kami paksa mereka masuk ke dalam siksa yang keras (QS. Luqman: 24).
- Contoh: Firaun dan Qarun.
- Golongan II: Syaqiyyun fid dunya wa sa’idun fil akhirah (Sengsara/biasa-biasa saja di dunia, tetapi bahagia di akhirat) .
- Ciri-ciri: Kehidupan biasa-biasa saja, penuh keterbatasan, mungkin tinggal di rumah kontrakan, tetapi tidak lupa beribadah kepada Allah.
- Amalan: Menjalankan salat lima waktu, rutin berpuasa, dan suka menolong orang lain.
- Kondisi: Sabar menghadapi ujian dan musibah dari Allah.
- Janji Allah: Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb-Nya dan mendapatkan petunjuk (QS. Al-Baqarah: 155-157).
- Golongan III: Sa’idun fid dunya wa sa’idun fil akhirah (Bahagia di dunia dan bahagia di akhirat) .
- Ciri-ciri: Hidup diliputi kesenangan (rumah besar, usaha banyak, kendaraan mewah), serta memiliki istri dan anak saleh/salehah.
- Kondisi: Tidak memalingkan diri dari hidayah. Harta digunakan untuk infak fii sabilillah, sedekah, dan amal jariyah. Kesehatan dan hidup digunakan untuk meningkatkan kualitas ibadah.
- Amalan: Melaksanakan salat lima waktu, berpuasa, menunaikan zakat mal, naik haji, dan membantu sesama.
- Hakikat: Mereka mampu mensyukuri nikmat. $La in syakartum la’azīdannakum wa la in kafartum inna ‘adzābī lasyadīd (Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu). Inilah anugerah istimewa (fadhlullah) dari Allah.
- Golongan IV: Syaqiyyun fid dunya wa syaqiyyun fil akhirah (Sengsara di dunia dan sengsara di akhirat) .
- Ciri-ciri: Hidup merugi, tidak memiliki manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Hidup penuh kemiskinan, terlunta-lunta, susah makan, tetapi melupakan Allah.
- Kondisi: Berbuat maksiat, merugikan orang lain, dan lupa akan kehidupan akhirat.
- Ancaman Allah: Bekerja keras lagi kepayahan, sedang dia di akhirat memasuki api yang sangat panas (QS. Al-Ghasyiyah: 3-4).
- Sifat: Golongan yang paling banyak di akhir zaman.
- Kesimpulan
- Kesempatan Memilih: Kita masih punya kesempatan untuk memilih dari keempat golongan tersebut.
- Pilihan Terbaik: Minimal kita memilih golongan yang sengsara di dunia tapi bahagia di akhirat, atau lebih baik lagi bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.
- Kunci Sukses (Hidayah): Hidayah itu perlu dijemput dan dicari, bukan ditunggu.
- Allah berfirman: Dan orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencari keridhaan Kami, maka Kami benar-benar akan berikan petunjuk kepada mereka.
- Imam Ghazali mengatakan: Tidak ada kunci untuk mendapatkan hidayah kecuali dengan bersungguh-sungguh/mujahadah.
- Pentingnya Shalat: Kunci amal ibadah kita adalah salat lima waktu, karena salat adalah tiang agama dan yang pertama kali dihisab di akhirat. Jika salat baik, maka semua amal ibadah dianggap baik.
- Hidup di dunia hanya sementara, seperti musafir yang mampir minum. Yang kekal dan abadi adalah akhirat. Mari kita persiapkan bekal agar dapat kembali kepada Allah dan mendapatkan surga-Nya.
![]()