Dakwah MUI RRI Pro 1, MENJAGA KUALITAS IBADAH DAN AMAL SOLEH SEPANJANG WAKTU

RINGKASAN CERAMAH

 

MENJAGA KUALITAS IBADAH DAN AMAL SOLEH SEPANJANG WAKTU

 

Oleh : H. Muhammad Alwan, S.Pd.I

 

Pengurus Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat

Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Timur

 

Disiarkan oleh Pro 1 RRI Samarinda dalam program Mutiara Pagi

 

 

  1. Pilar Utama Menjaga Kualitas Ibadah

 

Untuk menjaga dan meningkatkan kualitas ibadah serta amal saleh, ada beberapa pilar yang harus diperhatikan:

 

  1. Niat (Pondasi Amal)
  • Niat adalah ibadah hati, lebih dari sekadar ucapan, yang merupakan kesadaran hati akan arah, tujuan, dan jenis perbuatan.
  • Niat adalah unsur penentu sah dan tidaknya suatu amal.
  • Rasulullah SAW bersabda, Innamal a’malu  binniah (Sesungguhnya diterima atau tidaknya amal seseorang itu tergantung pada niat).
  • Amalan yang bersifat duniawi, seperti bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga, bisa bernilai ibadah di sisi Allah jika didasari niat yang positif.
  • Sebaliknya, ibadah rutin seperti salat berjemaah yang dilakukan sekadar untuk menghindari cemoohan orang, tidak akan diterima sebagai ibadah oleh Allah karena niatnya bersifat keduniaan.

 

  1. Keikhlasan (Pilar yang Menjiwai Perbuatan)
  • Ikhlas berarti memurnikan satu ibadah.
  • Ikhlas adalah penentu diterima atau tidaknya amal.
  • Amal saleh tanpa didasari keikhlasan bagaikan debu yang berterbangan, tidak bernilai di sisi Allah.
  • Allah berfirman, “Tidaklah diperintahkan kamu sekalian kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan (mukhlisina) di dalam melakukan beragama…” (QS Al-Bayyinah: 5).
  • Ikhlas membersihkan perbuatan dari pandangan makhluk.

 

  1. Kebenaran Ibadah (Sesuai Tuntunan)
  • Ibadah haruslah benar dan sesuai dengan tuntunan (syariat).
  • Rasulullah SAW bersabda Barang siapa yang beramal ibadah yang tidak termasuk urusanku tidak ada perintah dari Rasulullah SAW maka amalan itu tertolak.
  • Ibadah bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, ketaatan, merasa diri hina, dan ketundukan.
  • Kita harus menghindari mengejar kuantitas dengan meremehkan kualitas, seperti tergesa-gesa dalam bacaan salat hingga merubah arti, atau berzikir tanpa penghayatan.

 

  1. Memahami Makna (Mencapai Kekhusyukan)
  • Ibadah harus dipahami maksud dan tujuannya agar kita dapat meresapi apa yang kita baca dan lakukan.
  • Allah akan memahamkan seseorang dalam beragama jika dikehendaki menjadi baik.
  • Memahami makna ibadah, seperti meresapi kata Allahu Akbar (Allah Maha Besar) dalam salat, akan menjauhkan kita dari sifat sombong (kibir).

 

  1. Konsisten (Mudawwamah)
  • Ibadah harus dilakukan secara konsisten dan rutin.
  • Rasulullah SAW bersabda, perkara yang baik itu adalah kontinuitas dari amalan itu meskipun sedikit.
  • Ibadah yang sedikit namun kontinu lebih baik daripada ibadah yang banyak namun terputus-putus.

 

  1. Istiqamah (Ketekunan Hati)
  • Istiqamah adalah ketekunan hati, keteguhan pendirian, dan konsisten dalam meluruskan tujuan ibadah.
  • Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami Allah kemudian beristikamah, maka dia tidak ada rasa takut dan tidak ada rasa sedih.” (QS Al-Ahqab: 13).
  • Stabilitas keimanan adalah kunci, karena iman itu bisa bertambah dan berkurang.

 

  1. Kesimpulan

 

Beramal dengan tujuan mencari rida Allah SWT.

  1. Melaksanakan ibadah harus benar sesuai tuntunan syariat. Dalam ibadah mahdhoh (ritual), prinsipnya tidak boleh dilakukan kecuali yang diperintah. Dalam ibadah ghairu mahdhoh (keduniaan), semuanya boleh kecuali yang dilarang.
  2. Berusaha memahami makna ibadah agar lebih khusyuk dan dekat kepada Allah.
  3. Menjaga kontinuitas ibadah dalam situasi dan kondisi apapun.
  4. Berusaha menjaga istikamah dan stabilitas keimanan.

 

Loading

Solverwp- WordPress Theme and Plugin

Sosial Media MUI Kaltim