RINGKASAN CERAMAH
MEMAKNAI KEMERDEKAAN
Oleh : Muhammad Syarwani, S.Pd., M.H
Pengurus Komisi Fatwa
Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Timur
Disiarkan oleh Pro 1 RRI Samarinda dalam program Mutiara Pagi
- Syukur Nikmat Kemerdekaan
- Patut merayakan kebahagiaan di bulan Agustus dengan memperingati, mensyukuri, dan mengingat perjuangan para pahlawan dan pendahulu bangsa.
- Kemerdekaan adalah nikmat besar dari Allah SWT yang patut disyukuri, membawa bangsa berdiri di atas kakinya sendiri dan menentukan nasibnya sendiri.
- Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an tentang seruan untuk berjihad melawan kezaliman di suatu negeri, di mana orang-orang lemah (laki-laki, perempuan, dan anak kecil) terzalimi dan memohon pertolongan Tuhan untuk dibebaskan dari pemimpin zalim dan diberi penolong/pahlawan kemerdekaan.
- Nikmat kemerdekaan ini secara umum diberikan kepada segenap bangsa yang merasakan pedihnya penjajahan.
- Allah SWT memerintahkan untuk selalu mengingat nikmat Allah Taala terhadap kaum, seperti ketika diselamatkan dari penguasa zalim (Firaun) yang melakukan siksaan keras, membunuh anak laki-laki, dan membiarkan perempuan.
- Merayakan bulan kemerdekaan sebagai momen untuk mengingat masa lampau ketika menghadapi ujian, kemudian mensyukurinya setelah mendapatkan kemerdekaan, adalah hal yang dianjurkan dan direstui dalam Al-Qur’an.
- Bentuk Syukur Kemerdekaan : Menghapus Kezaliman dan Menegakkan Hukum
- Tujuan Kemerdekaan.
- Tujuan utama meraih kemerdekaan adalah menghapuskan kezaliman.
- Kezaliman bukan hanya penjajahan bangsa asing, tetapi yang lebih utama adalah penjajahan bangsa sendiri terhadap saudaranya sendiri.
- Orang-orang terjajah bermunajat, “Wahai Tuhan kami, keluarkan kami dari negeri di mana penduduknya itu amat zalim”.
- Kezaliman dalam Bertetangga dan Penegakan Hukum.
- Saking besarnya gangguan tetangga yang zalim, seseorang sampai berharap pergi dan merasa terusir dari kampungnya, dan orang semacam ini akan menghadapi azab luar biasa dari Allah SWT.
- Fenomena ini masih ada, terutama ketika penegakan hukum lemah, sehingga sekelompok orang merasa bebas bertindak tanpa tindakan tegas dari aparat yang berwenang, membuat sebagian masyarakat memilih berhijrah ke tempat yang lebih baik.
- Prinsip Keadilan Sahabat Umar bin Khattab
- Sahabat Umar bin Khattab pernah menghadapi pengaduan dari seorang kafir dzimmi (warga negara kelas 2) bahwa anak pejabat muslim di Mesir mengambil haknya.
- Umar bin Khattab memanggil anak pejabat dan ayahnya ke Madinah, lalu berkata: “Sejak kapan kalian memperlakukan masyarakat lain, manusia lain itu seperti budak. Sementara ibu-ibu mereka telah melahirkan mereka sebagai orang-orang yang merdeka”.
- Kalimat ini menunjukkan keadilan Umar bin Khattab terhadap seluruh rakyatnya, bahkan warga negara kelas 2, di mana hak-hak mereka tidak boleh diganggu gugat, bahkan oleh anak pejabat.
- Kewajiban Menegakkan Hukum.
Ungkapan syukur adalah dengan menegakkan hukum Allah SWT (dari Al-Qur’an dan Hadis) dan hukum-hukum kesepakatan untuk menjaga hak satu sama lain.
- Peringatan bagi Pemimpin.
- Nabi SAW bersabda, siapapun yang diamanahkan mengurus urusan kaum muslimin, kemudian ia sering menghilang dari kebutuhan, hajat, urusan, kepentingan, atau kefakiran mereka, maka Allah SWT akan menjauhkan pertolongan-Nya dan hajatnya pada Hari Kiamat.
- Pemimpin bukan hanya eksekutif, tetapi juga pemimpin rumah tangga.
- Tugas utama pemimpin yang mendapat amanah adalah memprioritaskan tugasnya.
- Ibadah sunah yang paling utama bagi pemimpin adalah melaksanakan tugas mereka dalam menyampaikan hajat kaum muslimin.
- Menjadi pemimpin bisa menjadi jalan pintas masuk surga dan mendapat ridha Allah hanya dengan berbekal menjalankan Rukun Islam yang lima dan benar-benar menjalankan tugas melayani kaum muslimin.
- Pentingnya Sistem Hukum yang Adil.
- Ungkapan syukur adalah memastikan terjalannya sistem hukum yang adil.
- Nabi SAW mengecam kezaliman dan lemahnya sistem hukum yang tidak dapat melindungi hak setiap orang.
- Nabi SAW mengecam keras kebiasaan masyarakat jahiliyah yang memberikan perlakuan khusus atau syafaat dalam hukum hudud
- Nabi SAW bersabda, yang menghancurkan bangsa-bangsa sebelum adalah ketika orang berkedudukan melakukan pelanggaran hukum, mereka dibiarkan, tetapi yang status sosialnya rendah dihukum.
- Beliau menegaskan, “Demi kemuliaan Allah Subhanahu wa taala. Andai Fatimah putri dari Muhammad itu mencuri, maka pasti aku sendiri yang akan menegakkan hukum tersebut”.
- Sistem hukum yang tidak adil berdampak pada mudahnya hak masyarakat terancam dan timbulnya sikap angkuh dan sombong pada sebagian masyarakat yang diuntungkan.
- Contohnya: orang yang memodifikasi kendaraan dengan strobo/sirene mirip petugas, atau mengintimidasi orang lain dan mengaku punya koneksi dengan pejabat.
- Bahaya Keangkuhan (Sombong)
- Sikap angkuh muncul dari penegakan hukum yang lemah.
- Nabi SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang-orang yang di hatinya itu ada sedikit pun rasa angkuh”.
- Definisi sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.
- Ciri-ciri Penduduk Neraka (ketika di dunia):
- Setiap orang yang sikapnya kasar dan bergaya angkuh serta sombong.
- Orang-orang yang menghimpun kekayaan lebih banyak, sehingga orang lain terhalang mendapatkan haknya.
- Contohnya: sekelompok kecil yang menguasai sumber daya alam dan merampas hak orang lain secara zalim, atau bertindak preman/mengganggu kaum muslimin lain dengan pungli.
- Ciri-ciri Penduduk Surga (di dunia):
Umumnya berasal dari orang-orang yang lemah dan terzalimi.
- Sistem sosial yang sakit (hukum lemah/tidak adil) akan melahirkan kekelompok minoritas yang menampakkan keangkuhannya.
- Menghapus kezaliman ini harus menjadi fokus perjuangan dan merupakan perintah Nabi SAW serta bagian dari syiar agama.
- Hakikat Kehidupan Sejahtera
- Allah SWT berfirman, “Siapapun yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, maka kami akan berikan kepada mereka itu kehidupan yang sejahtera dan kami akan berikan kepada mereka itu balasan yang tiada terputus atas amal terbaik yang mereka lakukan”.
- Segala nikmat dan fasilitas di muka bumi tiada lain adalah untuk membantu manusia menjadi hamba Allah Taala yang paripurna, membuktikan bahwa manusia adalah khalifah sempurna untuk memimpin, mengatur, dan mensyukuri nikmat Allah.
- Tujuan utama manusia hidup di dunia: semata-mata untuk menyembah Allah SWT.
- Tanya Jawab
- Pertanyaan 1: Pemimpin Zalim dan Solusinya
- Menyampaikan bahwa di Indonesia saat ini terjadi banyak kezaliman (pemimpin zalim, melanggar hukum, merusak konstitusi), kolaborasi dengan oligarki yang memunculkan orang sombong dan preman yang menggarong SDA, dan bahkan penegak hukum menghukum orang tidak bersalah atas perintah pemimpin. Mayoritas rakyat dan pemimpin Indonesia beragama Islam, namun kondisi negara seperti ini. Bagaimana bisa menghadapinya atau mengembalikan orang-orang semacam ini ke jalan yang lurus?
- Tanggapan:
- Banyak masyarakat yang merasakan pemimpin zalim atau tidak memberikan rasa keadilan.
- Fokusnya adalah memperjuangkan agar kepemimpinan dipegang oleh orang-orang yang peduli dengan rakyatnya.
- Hukum Sebab Akibat dan Takdir:
- Allah SWT berfirman: “Demikianlah kami memberikan kekuasaan kepada bagi satu orang zalim terhadap sebagian yang lainnya karena sebab apa yang mereka upayakan” (Surat Al-An’am).
- Hadis riwayat Ibnu Majah: “Bagaimana kalian berperilaku maka seperti itulah pemimpin kalian nanti muncul”.
- Imam Abu Naim: Para pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya sendiri. Jika adil karena karakter rakyat adil; jika zalim, maka rakyat yang menanggungnya.
- Langkah Meluruskan Kezaliman:
- Perbaiki dari skala kecil dan domain diri sendiri.
- Jika rakyat tidak membentuk iklim di mana keadilan ditegakkan, maka harapan pemimpin lurus akan kecil.
- Anjuran agama saat merasa dikuasai pemimpin zalim: bukan melakukan pemberontakan, tetapi banyak bersabar, bertobat, dan menegakkan keadilan di sesama mereka.
- Dengan begitu, Allah Taala akan ganti pemimpin zalim dengan yang sesuai dengan karakter masyarakat yang adil.
- Kesimpulan: Perbaiki iklim di masyarakat, maka Allah akan berikan pemimpin yang adil.
- Pertanyaan 2: Merayakan Kemerdekaan dengan Berjoget
- Menyampaikan bahwa ada pro dan kontra terkait bersyukur dengan berjoget-joget atau lomba karaoke saat merayakan kemerdekaan, terutama jika wanita berjoget-joget di depan umum.
- Tanggapan:
- Ekspresi Kebahagiaan: Agama mengerti masyarakat membutuhkan ekspresi kebahagiaan (menyanyi, alat musik yang tidak dilarang ulama) dan ini bukan dilarang total. Terutama dalam momen memperingati nikmat besar seperti kemerdekaan.
- Batas Ekspresi: Dalam kegembiraan ada batas-batas agama yang tidak boleh dilanggar.
- Kisah Aisyah dan Tarian: Di zaman Nabi SAW, Sayidah Aisyah menonton pertunjukan tarian perang tradisional bangsa Habasyah di halaman masjid bersama Nabi, dengan tabuhan gendang. Namun, yang menari adalah laki-laki semua.
- Kisah Budak Perempuan: Ada budak perempuan yang memukul gendang sambil membacakan qasidah memuji Nabi, dan berhenti ketika Sahabat Umar bin Khattab datang. Nabi tersenyum melihatnya.
- Batas Hukum dan Kepantasan: Ada batas hukum dan batas kepantasan.
- Joget Wanita di Hadapan Publik: Ekspresi bahagia dari perempuan yang dipertontonkan di hadapan publik dan dilihat oleh banyak laki-laki yang bukan mahramnya masuk dalam hal yang kurang pantas/tidak diizinkan.
- Kufur Nikmat: Jika ungkapan kebahagiaan dilakukan dengan hal-hal yang dilarang, itu namanya kufur nikmat, dan nikmat akan perlahan dicabut oleh Allah SWT.
- Mengungkapkan kebahagiaan sebagai rasa syukur diizinkan, tapi harus menjaga batas-batas hukumnya.
- Pertanyaan 3: Makna Kemerdekaan Sejati dalam Islam
- Apa sebenarnya maksud dari kemerdekaan sejati ini yang lebih dari kebebasan politik?
-
- Definisi Kemerdekaan Sejati:
- Makna awal adalah tidak berhajat kepada sesuatu selain kepada Allah Ta’ala (istighna), yaitu dapat hidup tanpa terikat dengan hal tersebut.
- Ini berkaitan dengan sifat Allah Qiyamuhu Taala Binafsih (wujud dengan zat-Nya semata) dan firman-Nya Innallaha laghoniyyun ‘anil alamin (Allah Taala amat kaya/tidak berhajat terhadap segala sesuatu).
- Kaya (ghoniy) di sini berarti tidak berhajat (bukan hanya memiliki aset).
- Contoh: Orang kaya yang terikat kenyamanannya pada fasilitas (AC) sehingga tidak bisa tidur jika rusak, itu disebut fakir atau berhajat kepada AC-nya. Orang yang harus punya mobil mewah agar pinggangnya tidak sakit, itu tidak disebut kemerdekaan/kekayaan sejati.
- Definisi Kemerdekaan Sejati:
-
- Tingkatan Ekstrem (Imam Ibnu Athaillah):
- Kita itu merdeka terhadap pencapaian-pencapaian yang kita sudah pesimis duluan untuk mendapatkannya (misal: posisi direktur).
- Kita itu diperbudak (hamba) pada urusan-urusan duniawi yang kita masih berambisi untuk mencapai hal tersebut, karena hidup kita akan didekte untuk mengejarnya.
-
- Intinya :
- Minimalnya adalah hajat kita semata-mata disandarkan hanya kepada Allah Taala.
- Yakin dan tawakal penuh bahwa Allah Taala memberikan jaminan hidup, dan hidup kita itu bukan pada makhluk tetapi pada anugerah-Nya semata.
- Kesimpulan
- Mengingat, merenungkan, dan mensyukuri perjuangan meraih kemerdekaan adalah syiar yang diizinkan dan didorong oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an dan Hadis.
- Ungkapan syukur adalah dengan menegakkan hukum Allah dan hukum-hukum yang memastikan setiap orang mendapatkan bagiannya, menciptakan keadilan, dan memastikan tidak ada kelompok yang menindas atau menzalimi yang lain.
- Ekspresi kebahagiaan (lomba, nyanyi) diizinkan sepanjang tidak terjadi ikhtilat (campur baur) dan tidak melanggar hukum, mengusik ketenangan orang lain, atau memuat unsur-unsur yang dilarang oleh agama.
![]()